Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan beban perusahaan multifinance yang memiliki utang valuta asing (valas). Namun, PT BFI Finance Indonesia Tbk menyebut telah mengamankan seluruh pinjaman valas melalui skema lindung nilai penuh sehingga tidak terdampak fluktuasi kurs.
Corporate Communication Head BFI Finance, Dian Ariffahmi mengatakan, perusahaan telah melakukan pengamanan atas seluruh pinjaman dalam mata uang asing melalui strategi full hedging ke dalam mata uang rupiah.
“BFI Finance sudah melakukan pengamanan atas semua pinjaman dalam mata uang asing dengan melakukan full hedging ke dalam mata uang rupiah sehingga BFI Finance tidak memiliki risiko atas melemahnya nilai tukar rupiah atas mata uang asing,” ujar Dian kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Dengan strategi tersebut, BFI Finance memastikan tidak menghadapi risiko kerugian akibat pelemahan rupiah terhadap mata uang asing. Langkah itu juga dilakukan untuk menjaga stabilitas kewajiban perusahaan di tengah volatilitas pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar.
Baca Juga: BFI Finance Salurkan 57,8% Pembiayaan ke Modal Kerja per Kuartal I-2026
Sejalan dengan itu, lembaga pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menilai risiko utang valas di industri multifinance masih relatif terkendali. Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO Danan Dito menyebut porsi utang valas perusahaan multifinance umumnya tidak terlalu besar dan mayoritas telah dilindungi dengan strategi hedging.
Menurutnya, rata-rata porsi utang valas multifinance berada di kisaran 10% hingga 25% dari total pendanaan. Dengan adanya lindung nilai, fluktuasi nilai tukar tidak secara langsung memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya.
“Setahu saya, utang valas perusahaan multifinance cukup bervariasi, namun tidak terlalu besar, antara 10% sampai 25%. Biasanya oleh perusahaan multifinance posisi tersebut juga di-hedge, sehingga fluktuasi nilai mata uang asing tidak langsung berdampak pada kemampuan bayar utang,” ujar Danan kepada Kontan.
Danan menjelaskan perusahaan multifinance umumnya menggunakan instrumen cross currency swap (CCS) untuk melakukan lindung nilai atas kewajiban valas. Strategi tersebut memungkinkan biaya pendanaan tetap lebih terkontrol meskipun terjadi gejolak nilai tukar.
Baca Juga: BFI Finance (BFIN) Bidik Dana Rp 3 Triliun dari Penerbitan Obligasi
Ia menambahkan, perusahaan multifinance besar seperti Adira Finance, Astra Sedaya Finance, dan Federal International Finance juga telah menerapkan diversifikasi sumber pendanaan dan strategi lindung nilai sehingga tidak langsung terpapar risiko pelemahan rupiah maupun kenaikan suku bunga.
“Sudah belajar dari krisis sebelumnya, biasanya perusahaan multifinance dalam portofolio kami tidak mau open position terhadap dollar AS atau mata uang asing lainnya. Jadi biasanya di-hedging supaya biayanya terkontrol,” katanya.
Meski dampak langsung terhadap kewajiban valas dinilai terbatas, Danan mengingatkan pelemahan rupiah tetap berpotensi memberi tekanan terhadap bisnis multifinance dari sisi makroekonomi. Pelemahan kurs dapat meningkatkan biaya impor barang dan biaya hidup masyarakat, yang pada akhirnya berisiko menekan kemampuan bayar debitur.
Kendati demikian, hingga saat ini PEFINDO belum melihat kondisi tersebut memengaruhi prospek industri multifinance secara keseluruhan. Menurut Danan, fundamental industri masih cukup kuat, ditopang oleh permodalan, kualitas aset, dan likuiditas yang memadai.
“Namun memang kami pantau terus keadaan di pasar maupun kondisi makroekonomi karena berpotensi memberikan tekanan,” tuturnya.
Baca Juga: BFI Finance Tebar Dividen Rp 1,035 Triliun untuk Tahun Buku 2025, Yield Hampir 5%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













