kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

BI Gaspol Intermediasi Lewat Pinisi, Tapi Demand Kredit Masih Seret


Selasa, 28 April 2026 / 17:36 WIB
BI Gaspol Intermediasi Lewat Pinisi, Tapi Demand Kredit Masih Seret
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Hana Bank, Jakarta (KONTAN/Baihaki). Pemerintah dan BI luncurkan PINISI dorong kredit, tapi pelaku industri ragukan efektivitas. Cari tahu mengapa permintaan kredit masih lesu.


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

Trioksa menambahkan, berbagai kebijakan seperti insentif likuiditas makroprudensial (KLM) memang dapat menjadi enabler, tetapi bukan faktor utama pendorong kredit. Di tengah risiko global, perbankan juga cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

“Strategi bank saat ini adalah pembiayaan selektif, menjaga likuiditas, mengelola risiko, dan melakukan efisiensi operasional,” jelasnya.

Dengan demikian, meskipun PINISI berpotensi menjadi katalis positif bagi intermediasi, keberhasilan program ini tetap sangat bergantung pada pemulihan permintaan kredit dan kepastian kondisi ekonomi ke depan.

Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026

Sebagai catatan, BI juga terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas guna tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp427,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp358,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,9 triliun.

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun, BUSN sebesar Rp166,6 triliun, BPD sebesar Rp29,6 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,8 triliun.

Baca Juga: BI Luncurkan QRIS Indonesia–Korea Selatan, Perkuat Konektivitas Pembayaran Global

Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Tag


TERBARU

[X]
×