Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
Trioksa menambahkan, berbagai kebijakan seperti insentif likuiditas makroprudensial (KLM) memang dapat menjadi enabler, tetapi bukan faktor utama pendorong kredit. Di tengah risiko global, perbankan juga cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.
“Strategi bank saat ini adalah pembiayaan selektif, menjaga likuiditas, mengelola risiko, dan melakukan efisiensi operasional,” jelasnya.
Dengan demikian, meskipun PINISI berpotensi menjadi katalis positif bagi intermediasi, keberhasilan program ini tetap sangat bergantung pada pemulihan permintaan kredit dan kepastian kondisi ekonomi ke depan.
Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026
Sebagai catatan, BI juga terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas guna tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp427,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp358,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,9 triliun.
Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun, BUSN sebesar Rp166,6 triliun, BPD sebesar Rp29,6 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,8 triliun.
Baca Juga: BI Luncurkan QRIS Indonesia–Korea Selatan, Perkuat Konektivitas Pembayaran Global
Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













