kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

BI Gaspol Intermediasi Lewat Pinisi, Tapi Demand Kredit Masih Seret


Selasa, 28 April 2026 / 17:36 WIB
BI Gaspol Intermediasi Lewat Pinisi, Tapi Demand Kredit Masih Seret
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Hana Bank, Jakarta (KONTAN/Baihaki). Pemerintah dan BI luncurkan PINISI dorong kredit, tapi pelaku industri ragukan efektivitas. Cari tahu mengapa permintaan kredit masih lesu.


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah bersama Bank Indonesia resmi meluncurkan program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor produktif.

Inisiatif ini diharapkan mampu mengurai hambatan intermediasi sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4%–5,5%.

Meski demikian, pelaku industri menilai efektivitas program tersebut tetap sangat bergantung pada sisi permintaan kredit yang saat ini masih tertahan.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) kredit perbankan pada Maret 2026 masih tumbuh single digit atau tumbuh sebesar 9,49% secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 9,37% (yoy). 

Baca Juga: Kucuran Insentif dari BI Belum Mampu Dongkrak Pertumbuhan Kredit UMKM, Ada Apa?

Adapun  fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari total plafon kredit pada Maret 2026.

Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan, persoalan intermediasi tidak hanya terletak pada kesiapan perbankan dalam menyalurkan kredit, tetapi juga minat pelaku usaha untuk berekspansi.

“Penyaluran kredit itu ada dua sisi, supply dan demand. Dari sisi supply, perbankan sebenarnya siap. Tapi demand-nya ini yang masih banyak wait and see,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, ketidakpastian global dan dinamika geopolitik membuat pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dalam jangka pendek. Kondisi ini dinilai wajar karena pelaku usaha perlu mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Secara industri, pertumbuhan kredit masih tergolong cukup baik, berada di kisaran 9%–10% secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga masih solid di kisaran 11%, mencerminkan likuiditas perbankan yang memadai.

Baca Juga: Kredit Masih Lesu Meski Bunga Acuan BI Rate Kembali Ditahan, Ini Kata OJK

“Kalau dilihat, amunisi perbankan masih ada. Loan to deposit ratio (LDR) juga sehat. Jadi bukan di supply, tapi demand yang belum bisa dipaksa,” tambahnya.

Tigor optimistis permintaan kredit akan meningkat jika kondisi makroekonomi dan geopolitik mulai lebih jelas. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai masih tinggi, terutama untuk modal kerja.

“Banyak pelaku usaha butuh working capital. Kalau permintaan naik, mereka perlu bahan baku lebih banyak. Tapi kalau akses pembiayaan terbatas, mereka tidak bisa berkembang,” katanya.

Senada, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menilai PINISI merupakan langkah strategis untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan.

Menurutnya, program ini berpotensi meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek melalui kurasi yang lebih baik, transparansi, serta koordinasi lintas pemangku kepentingan.

“Ke depan, konsistensi implementasi, kualitas pipeline proyek, serta dukungan mitigasi risiko akan menjadi kunci keberhasilan program ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah dinamika global, perbankan tetap akan mengedepankan ekspansi kredit secara selektif dengan fokus pada sektor berfundamental kuat dan memiliki arus kas sehat. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset.

Baca Juga: BI Siapkan New BI-Fast, Transfer ke Luar Negeri Jadi Lebih Mudah

Sementara itu, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan menilai kebijakan percepatan intermediasi dari BI cukup efektif dari sisi suplai kredit.

Namun, ia mengingatkan bahwa dorongan dari sisi permintaan tetap menjadi faktor penentu.

“Ekspansi kredit bukan hanya dari supply bank, tapi juga dari demand. Selama permintaan kredit masih lesu, pertumbuhan kredit juga akan tertahan,” ujarnya.

Trioksa menambahkan, berbagai kebijakan seperti insentif likuiditas makroprudensial (KLM) memang dapat menjadi enabler, tetapi bukan faktor utama pendorong kredit. Di tengah risiko global, perbankan juga cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

“Strategi bank saat ini adalah pembiayaan selektif, menjaga likuiditas, mengelola risiko, dan melakukan efisiensi operasional,” jelasnya.

Dengan demikian, meskipun PINISI berpotensi menjadi katalis positif bagi intermediasi, keberhasilan program ini tetap sangat bergantung pada pemulihan permintaan kredit dan kepastian kondisi ekonomi ke depan.

Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026

Sebagai catatan, BI juga terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas guna tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp427,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp358,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,9 triliun.

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun, BUSN sebesar Rp166,6 triliun, BPD sebesar Rp29,6 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,8 triliun.

Baca Juga: BI Luncurkan QRIS Indonesia–Korea Selatan, Perkuat Konektivitas Pembayaran Global

Secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, sektor Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, sektor Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta sektor UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×