kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.716   -55,00   -0,31%
  • IDX 6.516   -5,53   -0,08%
  • KOMPAS100 847   -2,01   -0,24%
  • LQ45 640   -0,66   -0,10%
  • ISSI 229   -0,75   -0,33%
  • IDX30 358   -0,06   -0,02%
  • IDXHIDIV20 437   -0,05   -0,01%
  • IDX80 97   -0,19   -0,19%
  • IDXV30 121   -0,50   -0,41%
  • IDXQ30 114   0,15   0,13%

BI Tak Hanya Suntik Likuiditas, Kini Cari Debitur untuk Dongkrak Kredit


Jumat, 28 Agustus 2026 / 13:13 WIB
BI Tak Hanya Suntik Likuiditas, Kini Cari Debitur untuk Dongkrak Kredit
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menilai tantangan pertumbuhan kredit perbankan saat ini tidak hanya berasal dari sisi likuiditas bank, tetapi juga permintaan kredit dari dunia usaha.

Karena itu, BI menyiapkan kombinasi kebijakan untuk mendorong sisi supply sekaligus mempertemukan perbankan dengan calon debitur.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, BI terlebih dahulu memastikan tidak ada persoalan likuiditas yang menghambat fungsi intermediasi perbankan. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai stimulus makroprudensial, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Baca Juga: Dapen BCA Pertimbangkan ETF Emas sebagai Instrumen Investasi, Tapi Porsinya Terbatas

"Persoalannya ini kombinasi dari demand-supply. Yang mau kita pastikan pertama-tama dari sisi makroprudensial adalah kita tidak ada problematika likuiditas dalam intermediasi. That's why kita keluarkan yang namanya KLM," ujar Alexander dalam diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Menurut Alexander, melalui KLM, BI memberikan tambahan ruang likuiditas kepada perbankan agar mampu meningkatkan penyaluran kredit.

Namun, tambahan likuiditas tersebut perlu diikuti dengan tersedianya permintaan kredit yang memadai. Sebab, bank tetap membutuhkan calon debitur yang memiliki kebutuhan pembiayaan sekaligus memenuhi kriteria kelayakan kredit.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BI mulai mendorong pendekatan dari sisi demand. Salah satunya melalui fasilitasi business matching antara perbankan dan pelaku usaha, termasuk UMKM.

Alexander mengatakan, BI berupaya mempertemukan bank dengan pelaku UMKM yang membutuhkan pembiayaan dan memiliki prospek untuk dikembangkan.

"Kita kumpulin siapa yang kita kerja sama dengan KPW-KPW, dan kami tanya teman-teman yang ada di Bandar Aceh, siapa UMKM yang ingin kita adakan semacam business matching," jelasnya.

Menurut dia, langkah tersebut penting agar bank tidak kesulitan menemukan calon debitur yang sesuai dengan kebutuhan pembiayaan.

BI juga akan bekerja sama dengan pemerintah untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang ingin didorong. Dengan demikian, kebutuhan pembiayaan dari dunia usaha dapat dipertemukan dengan arah kebijakan pemerintah dan kapasitas perbankan.

Baca Juga: BI Arahkan KLM ke Sektor Prioritas Ini, Termasuk UMKM

"Kalau ada korporasi yang bilang kami belum tahu mau ke mana arahnya, kita sinergi dengan pemerintah. Anda mau ke mana, kemudian bank bisa kasih funding berapa. Jadi tripartit, kita fasilitasi, Anda bicara," kata Alexander.

Alexander mengatakan, berbagai upaya tersebut dilakukan agar pertumbuhan kredit dapat bergerak menuju level yang lebih optimal dan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Adapun hingga Juli 2026 kredit perbankan tumbuh 13,58% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan Juni 2026 sebesar 12,67% secara year on year (yoy).

BI sendiri menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada kisaran 8%-12%. Hingga saat ini, Alexander menyebut perkembangan kredit masih berada dalam jalur sesuai target tersebut. "So far masih on track dari target kami," ujarnya.

BI pun akan terus mendorong intermediasi dari sisi supply maupun demand. Setelah sebelumnya memberikan stimulus dari sisi likuiditas, kini BI juga berupaya mengidentifikasi hambatan yang membuat fasilitas kredit belum sepenuhnya dimanfaatkan dunia usaha.

Alexander menekankan, kombinasi kebijakan tersebut diharapkan dapat mempertemukan likuiditas perbankan dengan kebutuhan pembiayaan dunia usaha.

"Harapannya ini bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Kita sekarang sudah coba dari sisi supply, tahun ini coba kita dorong lagi dari sisi demand. Harapannya di sana kita bisa ketemu dan identifikasi apa permasalahan-permasalahan yang mungkin muncul," pungkasnya.

Baca Juga: AIA Luncurkan AIA Nura Care: Proteksi Kesehatan di Masa Produktif hingga Pensiun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×