kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Biaya Operasional Bank Naik di Semester I-2026, Ini Penyebabnya


Jumat, 14 Agustus 2026 / 17:09 WIB
Biaya Operasional Bank Naik di Semester I-2026, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Sejumlah bank mencatat kenaikan biaya overhead atau operating expenses (opex) pada semester I-2026. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank mencatat kenaikan biaya overhead atau operating expenses (opex) pada semester I-2026. Kenaikan tersebut terjadi seiring ekspansi bisnis, investasi teknologi, penguatan sumber daya manusia, hingga aktivitas promosi.

PT Bank Central Asia (BCA) misalnya mencatatkan kenaikan opex 1,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp17,4 triliun pada semester I-2026. Kenaikan terutama berasal dari beban umum dan administrasi (general and administrative expenses/G&A) yang meningkat 4,6% yoy menjadi Rp8,5 triliun. Sementara itu, beban tenaga kerja BCA justru turun 1,2% yoy menjadi sekitar Rp9 triliun.

Kenaikan biaya operasional juga terjadi pada sejumlah bank lainnya. PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat opex sebesar Rp15,5 triliun pada semester I-2026, meningkat 12,6% yoy dari sekitar Rp13,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: OJK Dukung Insentif BI untuk Bank yang Pegang SBN dan SRBI

Kemudian, opex PT Bank Tabungan Negara (BTN) naik 9,4% yoy menjadi Rp5,9 triliun. Sementara itu, biaya operasional Bank Danamon meningkat 2% yoy menjadi sekitar Rp6,73 triliun.

Adapun opex PT Bank OCBC NISP naik 1% yoy menjadi sekitar Rp3,1 triliun, sedangkan PT Bank CIMB Niaga mencatat kenaikan biaya operasional sebesar 7,2% yoy menjadi Rp 4,63 triliun.

Sementara itu, Bank Mandiri justru mencatat penurunan beban operasional. Pada semester I-2026, operating expenses Bank Mandiri mencapai Rp26,93 triliun, turun tipis 1,42% yoy dibandingkan Rp27,31 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan beban tersebut turut menopang perbaikan efisiensi Bank Mandiri dan mendorong pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 19,9% yoy menjadi Rp 44,18 triliun.

Jika dirinci, beban personalia Bank Mandiri pada semester I-2026 tercatat Rp11,2 triliun atau masih naik 2,47% yoy. Namun, kenaikan tersebut diimbangi penurunan G&A expenses sebesar 6,32% yoy menjadi Rp10,6 triliun. Sementara itu, other expenses naik 1,26% yoy menjadi Rp5,06 triliun.

Kenaikan biaya operasional juga tercermin dalam data industri perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), biaya overhead (OHC) perbankan mencapai 3,49% pada Mei 2026, naik dari 3,43% pada April 2026.

Baca Juga: BI Rate Naik 100 Bps, Bos Gadai Valuemax Ungkap Nasib Bunga Gadai

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan beban promosi serta beban lainnya yang mencakup belanja barang dan jasa serta taksiran pajak tahun berjalan.

Kelompok bank BUMN mencatat kenaikan OHC terbesar, yakni dari 3,66% menjadi 3,76%. Kemudian kelompok kantor cabang bank asing (KCBA) naik dari 1,73% menjadi 1,76%, sedangkan bank umum swasta nasional (BUSN) meningkat tipis dari 3,15% menjadi 3,16%.

Adapun kelompok bank pembangunan daerah (BPD) menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan OHC, dari 3,64% menjadi 3,62%.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan biaya overhead perbankan pada semester I-2026 tidak terlepas dari aktivitas ekspansi dan investasi yang dilakukan bank.

"Menurut saya, kenaikan biaya overhead perbankan pada semester I 2026 disebabkan kenaikan dari aktivitas ekspansi dan investasi bank," ujar Trioksa kepada kontan.co.id, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, sejumlah komponen yang menjadi penyumbang kenaikan biaya antara lain belanja barang dan jasa, biaya tenaga kerja, promosi, penyusutan dan amortisasi, pajak, serta investasi teknologi dan keamanan digital.

Investasi tersebut meningkat seiring dengan transformasi layanan perbankan yang dilakukan industri.

Trioksa memperkirakan, biaya overhead masih berpotensi tinggi hingga akhir 2026. Namun, bank masih memiliki ruang untuk menekan pertumbuhan biaya melalui efisiensi belanja vendor dan pengadaan, mengurangi promosi yang kurang produktif, serta mengurangi proses manual dan duplikasi pekerjaan.

Selain itu, bank dapat melakukan konsolidasi aplikasi yang tumpang tindih dan mengoptimalkan jaringan kantor dengan tingkat produktivitas rendah.

"Strateginya bukan sekadar memangkas biaya, melainkan meningkatkan produktivitas setiap rupiah biaya melalui otomasi, digitalisasi, konsolidasi sistem dan vendor, penguatan CASA serta fee-based income," jelasnya.

Meski demikian, Trioksa mengingatkan bank tidak boleh memangkas biaya secara membabi buta, terutama untuk kebutuhan manajemen risiko, kepatuhan dan keamanan siber.

Dengan strategi tersebut, menurut dia, profitabilitas bank masih berpeluang tumbuh apabila peningkatan pendapatan mampu melampaui pertumbuhan biaya operasional.

Di sisi lain, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, beban operasional BCA relatif terjaga dengan pertumbuhan yang cenderung flat hingga semester I-2026.

"BCA senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien dalam mendukung pertumbuhan bisnis. Pengelolaan operasional yang efisien salah satunya dilakukan melalui optimalisasi transaksi melalui layanan perbankan digital dan transaksi non tunai sebagaimana yang tersedia di mobile banking dan internet banking," ujar Hera.

Menurutnya, efisiensi tersebut tercermin dari cost to income ratio (CIR) BCA yang berada di level 31,7% pada kuartal II-2026.

Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial sekaligus menyempurnakan dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi untuk menjaga efisiensi operasional dan kualitas layanan kepada nasabah.

Adapun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kenaikan opex perseroan secara praktik masih relatif datar.

"Opex practically flat, namun di tahun lalu ada one off yang mengurangi biaya saja," kata Lani.

Sementara itu, Chief Financial Officer Bank Danamon Theresia Adriana mengatakan, kenaikan biaya operasional konsolidasian Danamon sebesar 2% yoy menjadi Rp6,7 triliun sejalan dengan kebutuhan operasional dan berbagai inisiatif strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis perseroan dan anak usaha.

"Danamon tetap mengelola biaya operasional secara disiplin sehingga kenaikan tersebut berada pada tingkat yang terkendali dan sesuai dengan kebutuhan bisnis Danamon dan anak perusahaan," ujar Theresia.

Kontributor utama kenaikan biaya berasal dari sejumlah komponen, termasuk gaji dan tunjangan karyawan, biaya iklan dan promosi, serta biaya teknologi informasi.

Menurut Theresia, pengeluaran tersebut merupakan bagian dari investasi untuk mengembangkan kapabilitas sumber daya manusia, memperkuat merek dan aktivitas bisnis, serta meningkatkan keamanan, ketahanan dan efisiensi operasional.

Ke depan, Danamon akan terus menerapkan pengelolaan biaya secara disiplin dan selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis, prioritas strategis, serta rencana investasi perseroan dan anak usaha.

Danamon juga akan mendorong efisiensi dan produktivitas melalui optimalisasi proses bisnis, penguatan kapabilitas digital dan teknologi, serta pemanfaatan sinergi bersama MUFG sebagai induk perusahaan, jaringan grup, dan mitra strategis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×