kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45867,20   12,42   1.45%
  • EMAS1.371.000 1,18%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bisnis Bank Asing di Indonesia Ciamik, Ini Faktor Penopangnya


Sabtu, 25 Mei 2024 / 11:40 WIB
Bisnis Bank Asing di Indonesia Ciamik, Ini Faktor Penopangnya
ILUSTRASI. Sejumlah bank asing di Indonesia tetap mampu menunjukkan kinerja yang ciamik.


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) di Indonesia atau bisa disebut bank asing tetap mampu menunjukkan kinerja yang ciamik. Di mana, bisnis bank asing ini kebanyakan ditopang oleh kredit nasabah korporasi multinasional yang dimiliki.

Meski, dalam beberapa tahun terakhir, tak jarang bank asing ini yang undur diri di Indonesia atau hanya sekadar menjual sebagian bisnisnya. Namun, potensi bisnis merek di tanah air dipercaya masih prospektif.

Ambil contoh, Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) yang sejak awal tahun 2024 ini sudah tak memiliki bisnis konsumer. Namun, bank tersebut masih mampu mencatatkan laba bersih Rp 665,9 miliar selama tiga bulan pertama tahun 2024 ini atau naik 17% secara tahunan (YoY).

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan bahwa hal tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan operasional lainnya dan membaiknya biaya operasional. Meskipun, pendapatan bunga bersih Citi Indonesia turun 23% menjadi Rp 936,3 miliar di kuartal I-2024.

Hanya saja, Batara mengungkapkan untuk pendapatan bunga bersih tak bisa dibandingkan secara tahunan. Sebab, pada periode sama tahun lalu, Citi Indonesia masih menjalankan bisnis konsumer.

Baca Juga: Naik 17%, Citi Indonesia Catat Laba Bersih Senilai Rp 665,9 Miliar di Kuartal I-2024

“Tapi kalau kita bandingkan institutional banking di kuartal I-2023 sama insititutional banking di kuartal I-2024, pendapatan bunga bersihnya masih tumbuh 7%,” ujar Batara.

Adapun, Batara mengungkapkan bahwa bisnis institusional banking masih memiliki kinerja yang positif. Meskipun, ia menyadari bahwa selama periode Januari 2024 hingga Maret 2024 ini, nasabah multinasional sedikit wait and see menunggu berlangsungnya pemilu.

Selepas pemilu selesai, Batara melihat nasabah multinasional yang dimiliki mulai bergeliat. Harapannya, hal tersebut bisa mendongkrak kredit Citi Indonesia lebih kencang lagi di sisi tahun 2024 berjalan.

“Saya lihat klien-klien Citi yang ada di Asia seperti China itu tetap berinvestasi di Indonesia dan mereka bilang setelah pemilu, Indonesia tetap menjadi pasar yang baik,” tambah Batara.

Sementara itu, HSBC Indonesia juga tetap mencatatkan pertumbuhan laba sepanjang periode kuartal I-2024 menjadi Rp 820,94 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, HSBC Indonesia mencatat laba bersih Rp 457,49 miliar.

Meski demikian, pendapatan bunga bersih HSBC Indonesia terpantau turun 1,94% YoY menjadi Rp 1,1 triliun. Namun, bank tersebut masih mampu meningkatkan penyaluran kredit dalam setahun dari Rp 55,62 triliun menjadi Rp 56,84 triliun.

Sebelumnya, Managing Director dan Head of Wholesale Banking HSBC Indonesia Riko Tasmaya mengatakan, segmen wholesale banking bakal melaju pada semester II/2024 dan akan menjadi penopang pertumbuhan pada kredit korporasi.

Baca Juga: Begini Prospek Investasi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Riko menjelaskan, faktor pendorong pertumbuhan kredit korporasi HSBC yakni, masuknya penanaman modal asing alias foreign direct investment (FDI) dan aktivitas ekspor impor. Dengan target kredit korporasi tumbuh 8% hingga 9%.

“HSBC Indonesia juga telah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari melakukan pendekatan ekosistem baterai kendaraan listrik, kesehatan, ekonomi digital hingga ESG,” ujar Riko.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengungkapkan bahwa untuk bank-bank asing ini, tak dipungkiri kredit mereka akan banyak ditopang dari nasabah korporasi multinasional. 

Menurutnya, hal tersebut juga menjadi potensi yang besar bagi mereka di Indonesia. Terlebih, jika memang banyak korporasi yang berasal dari negara mereka berinvestasi di Indonesia.

“Itu menjadi pilihan yang tak terhindarkan, mau di sektor apapun, pasti mereka garap untuk kepentingan pembayaran, payroll, dan sebagainya,” ujar Amin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×