kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   -20.000   -0,78%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Bisnis Paylater Perbankan Tumbuh 26,68%, Ini Kinerja Allo Bank dan BCA


Minggu, 08 November 2026 / 06:34 WIB
Bisnis Paylater Perbankan Tumbuh 26,68%, Ini Kinerja Allo Bank dan BCA
ILUSTRASI. Bisnis paylater perbankan tumbuh 26,68% yoy hingga September 2026. Allo Bank tumbuh pesat, sementara outstanding BCA turun tipis. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis paylater perbankan masih menunjukkan pertumbuhan di tengah meningkatnya penggunaan layanan pembayaran digital. Namun, perkembangan tersebut tidak merata, dengan bank digital mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.

Hingga September 2026, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet kredit buy now pay later (BNPL) perbankan mencapai Rp 31,5 triliun. Nilai tersebut tumbuh 26,68% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 29,1% yoy pada bulan sebelumnya.

Sejalan dengan peningkatan tersebut, jumlah rekening BNPL tercatat mencapai 34,5 juta. Dengan demikian, rata-rata baki debet setiap rekening paylater berada di kisaran Rp 913.043.

Pertumbuhan bisnis paylater salah satunya terlihat di Allo Bank. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, bisnis Allo PayLater terus tumbuh secara sehat sepanjang tahun ini, baik dari sisi baki debet maupun jumlah pengguna.

“Baki debet paylater kami mencatatkan pertumbuhan lebih dari 20% secara tahunan,” katanya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Seiring dengan pertumbuhan baki debet tersebut, jumlah pengguna Allo PayLater kini telah melampaui 2,3 juta nasabah.

Baca Juga: OJK Ungkap Aturan Gadai Saham JARR dan PGUN Milik Haji Isam ke Bank Mandiri

Destya menambahkan, kualitas penggunaan produk paylater juga semakin baik. Hal ini terlihat dari peningkatan utilisasi dan frekuensi transaksi yang terus berlangsung.

Mayoritas transaksi paylater Allo Bank berasal dari kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paylater mulai menjadi instrumen pembayaran harian yang digunakan secara berulang, bukan sekadar fasilitas untuk pembelian sesekali.

Dari sisi kualitas kredit, Allo Bank memastikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) paylater tetap berada di level rendah.

Hal tersebut didukung oleh penerapan underwriting berbasis data yang mempertimbangkan perilaku transaksi nasabah di ekosistem grup. Selain itu, bank juga menerapkan pemberian limit sesuai profil risiko nasabah, pemantauan secara real-time, serta pencadangan yang disesuaikan dengan pertumbuhan kredit.

Allo Bank memandang prospek bisnis paylater masih positif ke depan. Perluasan adopsi pembayaran digital, bertambahnya merchant dan penggunaan layanan dalam ekosistem Allo Bank, serta momentum belanja akhir tahun menjadi sejumlah katalis pertumbuhan.

Di samping itu, ruang ekspansi industri paylater dinilai masih terbuka lebar. Allo Bank menargetkan baki debet paylater tetap tumbuh dua digit hingga akhir 2026.

“Basis pengguna aktif, frekuensi transaksi, dan utilisasi juga kami targetkan terus meningkat. Fokus kami bukan sekadar mengejar volume, tetapi memastikan setiap pertumbuhan tetap sehat dan berkualitas,” imbuh Destya.

BCA Catat Outstanding Paylater Turun

Berbeda dengan Allo Bank, Bank Central Asia (BCA) mencatatkan penurunan baki debet paylater pada September 2026.

Baki debet paylater BCA tercatat sebesar Rp 331,8 miliar, turun tipis 2,98% yoy. Meski demikian, jumlah pengguna produk tersebut masih mengalami pertumbuhan sebesar 8,2% yoy menjadi sekitar 200.000 nasabah.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, secara umum kinerja produk BNPL BCA masih menunjukkan pertumbuhan yang sehat.

Baca Juga: Rasio Kredit Macet BFI Finance (BFIN) Turun Jadi 1,33%, Siapkan Dividen hingga 70%

Meskipun outstanding kredit mengalami penurunan, BCA melihat adanya peningkatan transaksi paylater, terutama untuk kebutuhan ritel, mobilitas, dan konsumsi nasabah.

“Tren itu didukung juga oleh penyelenggaraan berbagai acara serta program menarik yang kami sediakan untuk nasabah,” sebut Hera.

Dari sisi kualitas kredit, Hera memastikan NPL paylater BCA tetap terjaga dengan baik. Hal ini sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko yang disiplin, serta kualitas kredit bank secara keseluruhan.

Sebagai gambaran, NPL BCA tercatat turun menjadi 1,79% dari 2,1% pada tahun sebelumnya. BCA berharap kualitas portofolio paylater tetap berada pada level yang terkendali atau manageable.

Secara umum, paylater BCA dikembangkan untuk memberikan fleksibilitas pembayaran sekaligus membantu nasabah mengelola keuangan dengan baik.

Layanan tersebut dapat digunakan untuk transaksi menggunakan QRIS, dengan pengajuan paylater dilakukan melalui aplikasi myBCA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×