Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) tetap mempertahankan target kinerja untuk tahun penuh 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Direktur Keuangan BNI Paolo Kartadjoemena menjelaskan, pihaknya belum melakukan perubahan terhadap target yang telah ditetapkan sejak awal tahun.
Namun begitu, bank juga mulai mencermati potensi dampak perlambatan ekonomi akibat tensi geopolitik global, termasuk konflik Iran yang berpotensi mempengaruhi kondisi ekonomi pada paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: BRILink Agen Tembus 1,18 Juta per Maret 2026, Transaksi Capai Rp 420 Triliun
“Untuk saat ini kami belum mengubah guidance. Tetapi kami juga tidak berasumsi semuanya akan berjalan mulus,” ujar Paolo dalam analyst meeting pekan lalu.
BNI masih mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10% pada 2026. Meski demikian, Paolo mengakui pertumbuhan kredit pada kuartal I-2026 yang masif mencapai 20% kemungkinan tak bakal berlanjut pada kuartal berikutnya.
Paolo bilang lonjakan kredit BNI pada awal tahun utamanya ditopang pencairan kredit korporasi jumbo ke Agrinas, yakni sebesar Rp 55 triliun, yang mendorong kredit korporasi tumbuh 24% yoy. Jika kredit ke Agrinas dikecualikan, sejatinya kredit korporasi BNI tumbuh 11% yoy.
Nah ke depan, bank melihat permintaan kredit bakal lebih moderat seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha.
“Kami memperkirakan pertumbuhan akan melambat pada kuartal-kuartal berikutnya, sehingga angka setahun penuh masih bisa berada dalam rentang guidance,” katanya.
Dari sisi profitabilitas, BNI mempertahankan target net interest margin (NIM) di level 3,5%–3,8%. Pada kuartal I-2026, NIM BNI tercatat sebesar 3,6%.
Namun, Paolo bilang pihaknya melihat potensi peningkatan biaya dana (cost of fund) di tengah persaingan penghimpunan dana yang makin ketat.
Baca Juga: Bank Kalbar Menunjuk Dirut Baru, Membidik Ekspansi Kredit UMKM
Meski demikian, bank juga meyakini basis dana murah (current account savings account/CASA) yang kuat masih menjadi penopang margin bunga bersih perseroan.
“Kami memperkirakan ada tekanan dari kenaikan biaya dana. Jika kompetisi likuiditas meningkat, NIM bisa bergerak ke batas bawah guidance,” ujarnya.
Sementara itu, untuk biaya kredit atau credit cost, BNI masih mempertahankan target di kisaran 1%–1,2%. Realisasi credit cost pada kuartal I 2026 berada di level 1,1%.
Paolo menambahkan, apabila kondisi ekonomi memburuk pada semester II-2026, maka biaya kredit berpotensi bergerak mendekati batas atas target yang telah ditetapkan.
“Jika ekonomi melemah pada paruh kedua tahun ini, credit cost bisa bergerak ke level atas guidance,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













