CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.550   21,00   0,12%
  • IDX 6.651   -27,59   -0,41%
  • KOMPAS100 875   -1,87   -0,21%
  • LQ45 661   -3,24   -0,49%
  • ISSI 233   -0,63   -0,27%
  • IDX30 367   -2,28   -0,62%
  • IDXHIDIV20 455   -1,76   -0,39%
  • IDX80 100   -0,20   -0,20%
  • IDXV30 128   0,44   0,34%
  • IDXQ30 117   -0,80   -0,68%

BNI Prediksi Likuiditas Membaik di Akhir Tahun 2026, Ini Penopangnya


Kamis, 10 September 2026 / 11:36 WIB
BNI Prediksi Likuiditas Membaik di Akhir Tahun 2026, Ini Penopangnya
ILUSTRASI. BNI Pastikan Program Kopdes Merah Putih tak berdampak negatif ke rasio NPL perseroan (KONTAN/Selvi Mayasari)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) melihat kondisi likuiditas perbankan cenderung membaik hingga akhir 2026. Sejumlah faktor, mulai dari dukungan pemerintah hingga kebijakan Bank Indonesia (BI), berpotensi menjaga likuiditas perbankan.

Sebagai gambaran, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan ada di posisi 88,38% per Juli 2026. Dalam periode yang sama, LDR BNI secara bank only ada di 85,47%. 

Head of Investor Relation BNI Yohan Setio melihat tren likuiditas secara umum menunjukkan perbaikan. Salah satunya karena dukungan pemerintah melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank Himbara. 

Baca Juga: Tahun Lalu Absen, Akankah BTN Bagi Dividen 2026? Simak Kisi-kisinya

Apalagi, kini dana tersebut memiliki jadwal jatuh tempo yang cukup jelas, sehingga bank dapat mempersiapkan kebutuhan likuiditasnya.

"Sebagian jatuh tempo di September, Oktober, dan Desember, dan sebagian jatuh tempo di pertengahan tahun depan. Jadi ada clarity mengenai kapan jatuh temponya sehingga bank bisa mempersiapkan likuiditas," ujar Yohan dalam public expose virtual, Rabu (9/9/2026).

Selain dari pemerintah, dukungan terhadap likuiditas juga datang dari Bank Indonesia (BI) melalui penurunan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Yohan melihat volume SRBI yang dipegang perbankan juga turun, mengindikasi sebagian dana yang sebelumnya terserap ke instrumen SRBI kembali masuk ke sistem perbankan.

Faktor lain yang turut mendukung likuiditas pada semester II adalah aktivitas ekonomi. Yohan mengatakan, pertumbuhan ekonomi biasanya lebih kuat pada paruh kedua tahun seiring dengan meningkatnya realisasi proyek pemerintah dan aktivitas bisnis.

"Jadi secara umum kita lihat kondisi likuiditas cukup baik di semester ke-2 ini," ujarnya.

Meski demikian, BNI melihat masih terdapat tantangan ketika memasuki 2027, terutama dari perkembangan suku bunga global.

Ia bilang sejumlah analis masih memperkirakan suku bunga Amerika Serikat berpotensi bertahan tinggi. Kondisi tersebut secara umum dapat memberikan tekanan terhadap likuiditas perbankan Indonesia.

Dari sisi internal, Yohan bilang pihaknya bakal terus memperkuat likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA). Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi BNI Direct dan wondr by BNI sekaligus memperluas basis nasabah.

BNI juga melihat adanya hubungan antara pertumbuhan kredit dan penghimpunan DPK. Semakin baik bank menggarap nasabah kredit, semakin besar pula peluang BNI menghimpun dana dari nasabah tersebut untuk mendukung likuiditas.

Ia menambahkan, BNI juga akan menjaga rasio likuiditas pada level yang sehat di bawah 90%, umumnya dalam kisaran 85%-86%. Yang mana, itu berarti dari 100% dana yang dihimpun, hanya 85% yang digunakan untuk penyaluran kredit, sementara sekitar 15% sisanya  menjadi buffer likuiditas.

Menurut Yohan, posisi tersebut memberikan ruang bagi BNI untuk memenuhi permintaan kredit secara mendadak sekaligus menghadapi potensi pengetatan likuiditas.

"Atau jika tiba-tiba likuiditas seret, dari sisi kita juga aman karena buffer likuiditasnya masih banyak," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, BNI menilai likuiditas domestik memiliki tren perbaikan pada paruh kedua 2026. Namun, bank tetap mewaspadai dinamika global dengan menjaga posisi likuiditas dalam kondisi yang cukup longgar.

"Dari sisi BNI yang penting kita senantiasa mawas diri, likuiditas kita jaga dalam kondisi sedikit berlimpah," sebut Yohan.

Baca Juga: Bank Muamalat Perkuat GRC di Tengah Transformasi Bisnis ke Segmen Ritel dan SME

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×