Reporter: Belva Safina | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan ini pemegang merek mobil listrik menawarkan banyak model baru dengan harga makin kompetitif. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menilai kehadiran mobil listrik model baru dengan harga kompetitif turut memengaruhi kinerja pembiayaan kendaraan bekas.
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menjelaskan saat ini, dengan makin banyaknya pilihan unit mobil listrik yang menawarkan harga kompetitif, tentunya menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi preferensi konsumen dalam memilih kendaraan.
"Konsumen kini memiliki banyak alternatif pilihan dan cenderung makin selektif dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti harga, nominal angsuran, beragam fitur, biaya kepemilikan, hingga nilai jual kembali kendaraan sebelum mengambil keputusan," ujarnya kepada Kontan, Rabu(9/9/2026).
Baca Juga: MUF Gandeng Bank Mandiri dan Dealer Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Ristiawan mengatakan penyaluran pembiayaan mobil bekas di industri multifinance hingga Juli 2026 tercatat Rp 53 triliun, terkoreksi 10% dibandingkan posisi Juli 2025 yang sebesar Rp 59 triliun.
Ristiawan menyebut kondisi itu menunjukkan bahwa segmen pembiayaan mobil bekas masih menghadapi tantangan, seperti dinamika pasar otomotif, kondisi global dan makro ekonomi, serta perubahan preferensi konsumen. Sampai Juli 2026, dia menyampaikan CNAF mencatatkan pembiayaan mobil bekas senilai Rp 1 trilliun.
"Hal itu turut mencerminkan bahwa pasar pembiayaan mobil bekas masih menghadapi dinamika, di mana masyarakat semakin selektif dalam menentukan pilihan kendaraan dengan mempertimbangkan berbagai aspek, baik harga kendaraan, efisiensi penggunaan, maupun harga jual kembali," ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, Ristiawan mengatakan perusahaan multifinance umumnya menerapkan strategi yang lebih selektif dan prudent dalam penyaluran pembiayaan. Hal itu dilakukan guna menjaga kualitas portofolio dan mengelola risiko secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ristiawan memproyeksikan pembiayaan mobil bekas masih menghadapi tantangan hingga akhir 2026. Dia bilang hal itu sejalan dengan kondisi industri yang masih berada dalam fase penyesuaian.
"Kinerja pembiayaan mobil bekas akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perkembangan daya beli masyarakat, preferensi konsumen, serta kondisi makro ekonomi secara keseluruhan," ucapnya.
Baca Juga: Bank Jago Tutup 1,6 Juta Rekening Tak Aktif di Kuartal II 2026
Meski demikian, CNAF tetap melihat segmen mobil bekas masih memiliki potensi yang baik. Ristiawan mengatakan perusahaan akan menerapkan berbagai strategi untuk mendorong kinerja pembiayaan mobil bekas, antara lain terus memperkuat sinergi bersama showroom maupun bursa mobil guna mengoptimalkan potensi market, serta menghadirkan pilihan unit kendaraan yang lebih beragam bagi masyarakat.
"Selain itu, CNAF juga terus meningkatkan kualitas layanan dengan menghadirkan proses pembiayaan yang makin mudah dan cepat mengingat kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan dengan harga yang terjangkau masih cukup tinggi," tuturnya.
Ristiawan mengatakan CNAF optimistis dapat terus menangkap peluang yang ada, sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Hingga akhir 2026, dia bilang CNAF menargetkan pembiayaan mobil bekas dapat berkontribusi sekitar 10% dari total target pembiayaan perusahaan yang sebesar Rp 9,6 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














