Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BRI Multifinance Indonesia atau BRI Finance menorehkan kinerja cemerlang pada segmen pembiayaan kendaraan listrik.
Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan menyampaikan bahwa penyaluran pembiayaan listrik pada Februari 2026 tumbuh sekitar 33 kali lipat dibandingkan dengan pembiayaan pada periode Februari 2025.
"Penyaluran pembiayaan kendaraan listrik pada Februari 2026 meningkat signifikan," katanya kepada Kontan, Jumat (13/3/26).
Capaian positif ini juga sejalan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik sebesar 39.1% YoY jadi Rp21,05 triliun pada Januari 2026.
Baca Juga: Hadapi Tantangan Geopolitik, MSIG Life Lakukan Diversifikasi Portofolio Investasi
Menurut Wahyudi, peningkatan permintaan ini terjadi karena kesadaran masyarakat terhadap efisiensi energi dan tren kendaraan ramah lingkungan mulai meningkat.
Selain itu, kendaraan listrik menjadi alternatif kendaraan yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan berpotensi menekan biaya operasional jangka panjang.
Adapun dari segi minat pasar, Wahyudi mencermati konsumen memiliki minat yang beragam terhadap kendaraan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya preferensi konsumen, ketersediaan produk, harga, hingga perkembangan teknologi kendaraan.
"Meski begitu, keputusan konsumen pada akhirnya tetap ditentukan oleh kebutuhan, daya beli, serta pertimbangan efisiensi penggunaan kendaraan," lanjutnya.
Untuk ke depannya, meski dibayangi dinamika dan ketidakpastian ekonomi Wahyudi menilai segmen pembiayaan kendaraan listrik tetap memiliki prospek yang baik.
Optimisme ini didukung oleh kesadaran akan efisiensi energi, perkembangan teknologi kendaraan listrik, dan bertambahnya pilihan produk kendaraan di pasar.
Oleh karena itu, BRI Finance berkomitmen untuk menjalankan bisnis sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Termasuk mendorong penguatan kerja sama dengan mitra dealer dan pelaku industri otomotif sekaligus memperluas kanal pemasaran.
Di samping itu, perusahaan juga akan melakukan pemantauan terhadap perkembangan pasar dan preferensi konsumen sehingga strategi bisnis juga akan dilakukan secara adaptif.
"Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berharap dapat menjaga pertumbuhan pembiayaan yang sehat sekaligus mempertahankan kualitas portofolio," tutupnya.
Baca Juga: Industri Asuransi Umum Bangkit pada 2025, Laba Tembus Rp 15,82 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













