Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis emas mulai menjadi salah satu motor pertumbuhan baru bagi Bank Syariah Indonesia (BSI). Sejak mendapatkan izin usaha bullion bank, transaksi emas di bank syariah terbesar di Indonesia ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan, sepanjang 2025 BSI mencatatkan transaksi emas sekitar 4 ton. Angka tersebut cukup besar mengingat perseroan masih tergolong pemain baru di bisnis emas.
“Kalau dibandingkan dengan Pegadaian mungkin tidak terlalu besar, tetapi bagi kami ini sangat besar karena baru memulai,” ujarnya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menariknya, dalam dua bulan pertama 2026, transaksi emas BSI sudah mencapai sekitar 2,7 ton. Dengan tren tersebut, perseroan optimistis volume perdagangan emas tahun ini bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Anggoro menilai, meningkatnya transaksi emas juga berdampak positif terhadap pertumbuhan nasabah BSI. Pada 2025, jumlah nasabah bank ini bertambah sekitar 2 juta orang, tertinggi sejak BSI terbentuk dari merger tiga bank syariah pada 2021.
Baca Juga: Permintaan Emas Naik, Nasabah Bullion Bank BSI Melonjak 44% Sejak Awal 2026
Dari total tambahan nasabah tersebut, sekitar 500.000 di antaranya berasal dari nasabah tabungan emas.
Menurut Anggoro, kehadiran produk emas membuat BSI kini memiliki dua mesin pertumbuhan bisnis atau dual engine. Selain sebagai bank syariah, BSI juga mengembangkan bisnis emas sebagai pilar baru.
“Sekarang kami punya dua engine, pertama bank syariah, kedua golden bank,” jelasnya.
Selain memperluas basis nasabah, bisnis emas juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) BSI. Pertumbuhan FBI bank ini tercatat sekitar 25% secara tahunan, salah satunya ditopang oleh transaksi emas.
Secara keseluruhan, BSI mencatatkan kinerja yang solid pada 2025. Total aset bank mencapai sekitar Rp 496 triliun atau tumbuh 14% secara tahunan. Sementara pembiayaan juga tumbuh 14% dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 16% menjadi Rp 380 triliun.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Nasabah Bullion BSI Naik 44%
Anggoro menambahkan, produk tabungan emas juga mendorong peningkatan dana simpanan nasabah. Nasabah yang membuka tabungan emas cenderung tetap menempatkan dana di tabungan sambil menunggu momentum pembelian emas.
“Ketika harga emas naik, nasabah tidak menjual seperti di saham. Justru mereka beli lagi,” kata Anggoro.
BSI juga memperkuat layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI yang memungkinkan masyarakat membeli, menjual, hingga menggadaikan emas secara digital.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bahkan dapat membeli emas mulai dari sekitar Rp 50.000.
Menariknya, BSI juga mulai menyasar generasi muda sebagai target pasar. Saat ini porsi nasabah generasi Z dalam tabungan emas meningkat dari sekitar 24% pada 2024 menjadi sekitar 32%.
Baca Juga: Lonjakan Harga Emas Mendongkrak Bisnis Bullion BSI
Menurut Anggoro, tren ini menunjukkan meningkatnya literasi investasi di kalangan anak muda.
“Selama ini emas sering dianggap investasi orang tua. Sekarang anak muda mulai tertarik karena bisa beli dengan nominal kecil melalui aplikasi,” katanya.
Ke depan, BSI juga mendorong pemanfaatan emas dalam berbagai kebutuhan transaksi, termasuk fitur transfer emas hingga pemberian bonus karyawan dalam bentuk emas.
"Dengan berbagai inovasi tersebut, BSI optimistis bisnis emas akan semakin memperkuat inklusi keuangan sekaligus menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan," tandasnya.
Baca Juga: Strategi Digital BSI Ubah Cara Bertransaksi Emas dan Keuangan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













