Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah di akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (24/7/2026). Padahal, sehari sebelumnya emiten blue chip ini baru mengumumkan hasil kinerja semester I-2026 yang terbilang memuaskan.
BMRI menutup perdagangan pekan lalu di harga Rp 4.130 per saham, melemah 5,71% secara harian. Dalam sepekan, posisi harga tersebut mencerminkan pelemahan hingga 7,81%.
Sekadar informasi, BMRI menorehkan penurunan harga paling dalam dibanding big banks lainnya hari itu. Yang mana PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertahan di harga Rp 6.275, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1% menjadi Rp 2.960, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,22% menjadi Rp 3.520.
Baca Juga: Kartu Kredit BRI Beri Diskon Rp5 Juta untuk PO Samsung Foldable 8
Pada Kamis (23/7/2026) lalu BMRI baru mengumumkan hasil kinerja enam bulan pertamanya. Bank berlogo pita emas ini berhasil mengantongi laba konsolidasian sebesar Rp 30,41 triliun atau meningkat 24,3% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sejatinya pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank secara konsolidasian turun 7,84% yoy menjadi Rp 48,33 triliun. Sejalan, total kredit konsolidasian yang disalurkan perusahaan turun tipis 1,3% yoy menjadi Rp 1.674 triliun.
Kendati begitu, BMRI berhasil menjaga kualitas asetnya, terbukti dari penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) menjadi 0,98% dari posisi 1,08% pada tahun sebelumnya.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menyebut, secara fundamental kinerja BMRI masih cukup berkelanjutan. Toh secara bank only, Bank Mandiri berhasil menumbuhkan kredit secara solid berkat penyaluran ke segmen wholesale dan BUMN yang kuat.
Sejalan dengan itu, bank mampu menjaga rasio NPL dan biaya kredit tetap rendah. Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi alias fee based income masih memberikan dukungan terhadap laba.
Namun begitu, Andrey bilang investor perlu mencermati margin bunga bersih (net interest income/NIM) bank yang terdampak dari ketatnya likuiditas. Persaingan dana pihak ketiga (DPK), kata Andrey, membuat biaya dana (cost of fund/CoF) meningkat sementara imbal hasil kredit mulai tertekan.
Baca Juga: Strategi Mega Insurance untuk Dorong Kinerja Asuransi Properti hingga Akhir 2026
Hal itu juga sudah menjadi perhatian manajemen, tercermin dari penurunan proyeksi NIM untuk 2026 dari 4,5%–4,7% menjadi 4,3%–4,5%. Meskipun, Bank Mandiri juga melihat margin bakal mulai stabil pada kuartal III-2026.
Secara keseluruhan, Andrey bilang sebenarnya kinerja BMRI sejauh ini menjadi katalis positif bagi pergerakan harga sahamnya. Hanya saja, investor memang bakal tetap mencermati perkembangan likuiditas dan arah suku bunga.
“Ruang kenaikan harga saham kemungkinan lebih bertahap,” sebut Andrey.
RHB Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk BMRI dengan target harga Rp 5.420, mencerminkan potensi kenaikan harga lebih dari 20%.
Andrey menjelaskan, sentimen positif masih berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika tekanan CoF mulai mereda, NIM benar-benar stabil pada paruh kedua tahun ini, dan tak ada pelemahan kualitas aset.
“Selain itu, valuasi BMRI yang masih relatif menarik dan dividend yield sekitar 10% juga menjadi faktor pendukung bagi pergerakan saham ke depan,” tukas Andrey.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














