Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus menggenjot penyelesaian kredit bermasalah yang berasal dari portofolio masa lalu. Upaya ini dilakukan secara konsisten melalui restrukturisasi, perbaikan, hingga penjualan aset.
Per kuartal I-2026, rasio Non Performing Loan (NPL) gross di BTN sebesar 3,1%, menurun dari 3,3% di periode sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu, mengatakan setiap tahun perseroan mampu menghasilkan recovery income sekitar Rp 800 miliar dari aktivitas penyelesaian kredit bermasalah tersebut.
“Setiap tahun kita melakukan restrukturisasi, perbaikan, dan penjualan. Yang menjadi recovery income sekitar Rp 800 miliar tiap tahun,” ujarnya saat konferensi pers paparan kinerja perseroan, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: BTN Cetak Laba Rp 1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Tumbuh 22,6% dari Tahun Lalu
Nixon menambahkan, tren penambahan NPL baru saat ini sudah menunjukkan penurunan. Namun, tantangan terbesar masih berasal dari kredit bermasalah lama yang proses penyelesaiannya tidak mudah.
Ia mencontohkan sejumlah kendala klasik, seperti aset properti yang tidak memiliki sertifikat atau belum mengantongi izin sejak awal. Kondisi ini membuat aset sulit dijual meskipun sudah dilakukan berbagai upaya.
Kalau tidak ada sertifikat, mau dijual ke mana. Ada juga yang tidak ada izin dari awal, ini yang menjadi pekerjaan rumah besar,” jelasnya.
Permasalahan tersebut umumnya berasal dari kredit yang diberikan puluhan tahun lalu. Meski demikian, manajemen saat ini tetap berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut tanpa menyalahkan kebijakan masa lalu.
BTN juga menghadapi kasus di mana debitur telah melunasi kredit, tetapi dokumen legal seperti sertifikat atau izin bangunan belum dapat diselesaikan. Hal ini turut berdampak pada penyelesaian aset dan kualitas portofolio.
Baca Juga: Penyaluran Kredit BTN Capai Rp 400,63 Triliun, Naik 10,3% pada Kuartal I-2026
“Setiap tahun ratusan ribu kasus seperti ini kita rapikan dan selesaikan,” katanya.
BTN juga mengandalkan penjualan aset bermasalah atau hapus buku (write-off) sebagai salah satu sumber pendapatan non-operasional. Strategi ini dinilai tetap efektif menopang recovery income di tengah upaya menjaga kualitas aset.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan realisasi penjualan aset bulk sejauh ini masih sesuai dengan target perseroan.
“Aset penjualan sesuai target, justru salah satu pendapatan non-operasional yang baik itu dari recovery. Jadi dengan penjualan aset konsumer seperti rumah yang sudah macet dan hapus buku itu cukup baik,” ujarnya.
Setiyo menyebut, BTN secara konsisten mampu membukukan recovery income dari penjualan aset sekitar Rp 800 miliar setiap tahun.
Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan dari recovery dapat meningkat ke kisaran Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun.
Target tersebut diperkirakan tumbuh sekitar 15%–20% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menekankan pertumbuhan ini bersifat bertahap dan tidak bisa melonjak drastis dalam waktu singkat.
Baca Juga: Diikuti 40.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Bidik Perputaran Ekonomi Rp 200 Miliar
“Memang perlu waktu, tidak bisa langsung melonjak. Tapi ini bisa menjadi recurring income ke depan,” jelasnya.
Dalam mendorong penjualan aset, BTN mulai mengembangkan sejumlah skema baru. Salah satunya melalui skema direct yang akan difokuskan pada aset komersial seperti hotel, mal, dan kondotel.
Skema ini nantinya akan dikemas dalam bentuk instrumen investasi seperti real estate investment trust (REITs) atau direct investment yang ditawarkan ke pasar.
“Untuk komersial properti seperti hotel dan mal, itu akan kita bungkus menjadi REITs atau direct investment, lalu dijual ke market,” imbuh Setiyo.
Saat ini, penjualan aset BTN juga dilakukan dengan menggandeng investor, baik untuk segmen properti komersial maupun konsumer. Untuk aset konsumer, perseroan aktif menjaring investor melalui berbagai kegiatan seperti gathering.
Baca Juga: Bangun Loan Factory, BTN Bidik Pertumbuhan Kredit Lebih Cepat dan Terukur
“Kalau komersial properti ada investor yang masuk. Untuk konsumer juga ada investor, kita buat gathering dan sebagainya,” katanya.
Di sisi lain, BTN tetap menjaga kualitas kredit. Perseroan menargetkan NPL gross berada di kisaran 2,9% pada tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













