Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan suku bunga kredit perbankan mulai menjadi perhatian karena berpotensi menekan kemampuan bayar masyarakat.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mewanti-wanti adanya risiko memburuknya kualitas kredit, terutama pada masyarakat kelas menengah dan sektor ekonomi yang bergantung pada konsumsi kelompok tersebut.
Josua menyebut, rata-rata suku bunga kredit per Juni 2026 telah naik menjadi 8,79%. Sementara itu, suku bunga deposito satu bulan meningkat dari 4,28% menjadi 4,77%. Suku bunga deposito tiga bulan juga mengalami kenaikan sekitar 25 basis poin.
Menurutnya, kenaikan suku bunga tersebut merupakan bagian dari transmisi kebijakan suku bunga yang masih terus berlangsung. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) akan diteruskan ke suku bunga pasar uang, deposito, hingga suku bunga kredit dan pada akhirnya mempengaruhi aktivitas ekonomi riil.
Baca Juga: Suku Bunga Kredit Sudah 8,79%, Ekonom: Tekanan Biaya Dana Perbankan Berlanjut
Josua menilai transmisi kenaikan suku bunga ke kredit memang membutuhkan waktu yang lebih panjang. Kondisi tersebut membuat dampak kenaikan biaya pinjaman terhadap debitur masih berpotensi berlanjut.
Menurutnya, salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah kualitas kredit. Kenaikan bunga kredit dapat menjadi tantangan khusus bagi masyarakat kelas menengah yang memiliki ketergantungan terhadap pembiayaan, terutama ketika daya konsumsi kelompok tersebut mengalami tekanan.
"Ada potensi dari pemburukan kualitas kredit ya, khususnya yang di-drive tadi oleh masyarakat kelas menengah dan juga sektor-sektor ekonomi yang bergantung ataupun yang sangat dipengaruhi tadi oleh konsumsi kelas menengah tersebut," jelas Josua dalam agenda PIER Economic Review Kuartal II, Senin (10/8/2026).
Risiko tersebut juga dapat merembet kepada sektor-sektor usaha yang mengandalkan konsumsi masyarakat kelas menengah. Jika konsumsi melemah, kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kewajiban pembiayaan juga berpotensi ikut terdampak.
Meski demikian, Josua melihat adanya kebijakan pelonggaran likuiditas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dapat membantu menjaga penyaluran kredit. Pelonggaran tersebut diharapkan memberikan ruang bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
"Harapannya, sekalipun tadi di satu sisi ada kenaikan suku bunga namun juga ada pelonggaran likuiditas di sana makroprudensial, artinya ini harapannya all in all tetap akan bisa mendukung penyaluran kredit kepada sektor-sektor prioritas," katanya.
Baca Juga: OJK: Inklusi Keuangan Tembus 93,61%, Literasi Masih Tertinggal
Selain kualitas kredit, Josua menyebut likuiditas dan cost of fund masih menjadi risiko utama perbankan. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik, harga minyak, nilai tukar, serta perkembangan suku bunga global juga berpotensi mempengaruhi biaya pinjaman perbankan.
Menurut Josua, kombinasi tekanan biaya dana dan potensi pelemahan kualitas kredit perlu dicermati agar kenaikan suku bunga tidak semakin membebani sektor perbankan maupun masyarakat kelas menengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
