kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   20.000   0,71%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Bunga Kredit Perbankan Mulai Turun Meski Lambat, Ini Pemicunya


Jumat, 24 April 2026 / 05:47 WIB
Bunga Kredit Perbankan Mulai Turun Meski Lambat, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Teller menghitung uang nasabah di BAnk Mandiri, JAkarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan bunga kredit perbankan mulai terlihat, tetapi lajunya masih tertinggal dibanding penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Kondisi ini menandakan transmisi kebijakan moneter ke sektor riil belum berjalan optimal.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rata-rata bunga kredit perbankan per Maret 2025 berada di level 8,76%, turun tipis dari 8,80% pada Februari.

Baca Juga: Bunga Kredit Masih Sulit Turun Meski BI-Rate di Level Terendah, Ini Pemicunya

Secara kumulatif sejak Januari 2025, bunga kredit baru turun 44 basis poin (bps). Penurunan ini jauh lebih kecil dibanding pemangkasan BI rate yang mencapai 1,25% sepanjang Januari hingga September 2025.

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan, lambatnya penurunan bunga kredit merupakan fenomena umum karena adanya jeda transmisi dari sisi pendanaan bank.

“Jika risiko gagal bayar dinilai masih tinggi, bank cenderung mempertahankan premi risiko pada level tinggi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Selain faktor risiko kredit, struktur biaya perbankan juga menjadi penahan. Tingginya biaya dana dan operasional membuat bank menjaga margin keuntungan, sehingga penyesuaian bunga kredit dilakukan secara bertahap.

Dampaknya, sektor yang lebih berisiko seperti UMKM dan kredit konsumsi menjadi yang paling lambat merasakan penurunan bunga.

Kondisi ini turut memengaruhi permintaan kredit. Di tengah bunga yang belum turun signifikan, nasabah korporasi cenderung menunda ekspansi atau mencari alternatif pembiayaan lain.

Baca Juga: Bunga Kredit Perbankan Masih Susah Turun, Ini Biang Keroknya

Fenomena ini memperkuat indikasi adanya transmission lag yang menahan laju pertumbuhan kredit.

Dari sisi perbankan, penentuan bunga kredit tidak hanya mengacu pada BI rate.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut, bank mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi makroekonomi, likuiditas, serta dinamika permintaan dan penawaran.

“Bank senantiasa mendorong penyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin,” jelasnya.

Per Maret 2026, suku bunga dasar kredit (SBDK) BCA berada di kisaran 6,85%–8,89%, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan kredit BCA masih terbatas di level 5,6%.

Hal serupa terjadi di KB Bank. Presiden Direktur Kunardy Darma Lie menyatakan penurunan bunga kredit masih tertahan oleh tingginya biaya dana, terutama dari deposan besar dengan special rate.

Baca Juga: Menanti Janji Bankir Turunkan Suku Bunga Kredit pada Tahun Depan

SBDK KB Bank per April 2026 berada di kisaran 9,17%–9,72%, turun tipis dari sebelumnya 9,5%–10%.  “Ke depan, penurunan bunga akan dilakukan bertahap, terutama pada segmen yang sensitif terhadap biaya dana,” ujarnya.

Sementara itu, Allo Bank juga telah menurunkan pricing kredit secara bertahap sejak tahun lalu. Namun, ruang penurunan masih terbatas karena dominasi dana mahal dan profil risiko portofolio.

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menegaskan, faktor risk premium tetap besar dalam penentuan bunga, seiring dominasi kredit ritel digital yang berisiko lebih tinggi.

Dengan berbagai faktor tersebut, penurunan bunga kredit diperkirakan masih berlangsung gradual.

Tanpa perbaikan signifikan pada biaya dana dan risiko kredit, transmisi pelonggaran moneter ke sektor riil berpotensi tetap tertahan dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×