Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan berkapitalisasi pasar jumbor alias big banks menjadi yang paling banyak merasakan dampak sentimen MSCI. Derasnya arus dana asing yang keluar melemahkan harga, tetapi murahnya valuasi tak serta-merta menjadi sinyal positif bagi investor domestik.
Senin (19/10/2026), saham big banks kembali ditutup melemah. Di mana, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menorehkan penurunan terdalam usai ditutup 6,86% ke level Rp 4.820. Artinya, BBCA cetak auto rejection bawah (ARB). Dalam sehari, BBCA mencatatkan net sell asing sebesar Rp 986,87 miliar.
Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup turun 3,79% menjadi Rp 2.540 dengan catatan net sell asing terbesar di pasar hingga Rp 1,08 triliun.
Baca Juga: IHSG Bergejolak, OJK Minta Industri Asuransi Perhatikan Manajemen Risiko
Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ditutup melemah 0,88% menjadi Rp 3.360 per saham. Net sell asing Bank Mandiri mencapai Rp 113,41 miliar.
Sementara saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 0,34% menjadi Rp 2.960 per saham. Di mana, saham BBNI masih mencatatkan net buy asing sebesar Rp 95,87 juta.
Untuk jangka pendek, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, saham big banks memang masih berpotensi mengalami tekanan seiring ketidakpastian MSCI dan risiko berlanjutnya arus keluar dana asing.
“BBCA dan BBRI menjadi perhatikan karena likuiditas dan kapitalisasi pasarnya yang besar, sehingga dapat menjadi sumber likuiditas bagi investor asing yang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Abida menambahkan, respons regulator terhadap pengumuman MSCI bisa memperbaiki sentimen hanya jika diikuti langkah konkret untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki free float, dan memperkuat integritas pasar. Pasalnya, investor global bakal pasang mata pada implementasi reformasi dan keputusan MSCI berikutnya.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo sepakat. Menurutnya, asing masih berfokus pada praktik goreng menggoreng saham di Indonesia. “Hal ini yang sebenarnya harus jadi perhatian dari regulator,” katanya.
Baca Juga: Bank Mandiri Perlu Minta Agunan Tambahan Saat Saham PGUN dan JARR Susut?
Abdul bilang, praktik itu sebenarnya memang sudah lama. Hanya saja, yang jadi perhatian adalah saham tersebut juga memiliki bobot sangat besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan bisa mengalahkan saham yang bisa dibilang kuat secara fundamental.
Abdul menegaskan, jika persoalan itu masih belum teratasi dan MSCI menilai belum ada perbaikan yang signifikan, arus keluar dana asing masih berpotensi sangat besar.
Maka dari itu, ia melihat sikap yang tepat diambil investor domestik saat ini adalah akumulasi secara bertahap pada sektor bank. Toh, valuasi saat ini juga sudah sangat murah.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta bilang, volatilitas big banks masih bakal tinggi hingga setidaknya dua minggu ke depan akibat aksi lepas portofolio dari dana indeks pasif.
Namun begitu, koreksi tajam yang membawa indikator teknikal ke area oversold ekstrem membuka peluang terjadinya pemulihan teknikal alias technical rebound.
“Tekanan jual asing diproyeksikan mulai melandai secara bertahap seiring berjalannya proses klarifikasi dan perbaikan regulasi oleh OJK serta BEI, meskipun arus dana keluar belum akan terhenti seketika,” tutur Nafan.
Namun tetap, Nafan bilang penurunan harga saham bank-bank besar saat ini baiknya disikapi secara bijak oleh investor domestik melalui strategi wait and see hingga pergerakan harga mengonfirmasi fase pembentukan dasar atau bottoming phase.
Abida sepakat. Ia bilang strategi pembelian bertahap dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan stabilisasi IHSG, arus dana asing, dan respons harga terhadap tekanan jual.
Dalam pandangan Abida, investor institusi domestik bisa saja menjadi penyangga melalui penyerapan saham berfundamental kuat pada valuasi yang lebih rendah. Namun, kemampuan segmen investor ini menahan koreksi tetap bergantung pada likuiditas yang tersedia, batas alokasi investasi, dan besarnya arus keluar asing.
“Karena itu, penyerapan domestik belum tentu cukup untuk menghentikan tekanan harga dalam jangka pendek,” sebutnya.
Untuk jangka panjang, Abida mengatakan, fundamental perbankan masih ditopang oleh pertumbuhan kredit, pendapatan bunga, dana murah, serta kebutuhan pembiayaan ekonomi domestik. Namun, prospek tersebut tetap perlu dievaluasi berdasarkan kemampuan bank menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kualitas aset, dan pertumbuhan laba.
Sementara itu, Abdul merekomendasikan buy untuk saham BMRI dan BBRI masing-masing dengan target harga Rp 5.400 dan Rp 4.000.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














