kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.174   -32,00   -0,19%
  • IDX 7.594   -39,89   -0,52%
  • KOMPAS100 1.050   -4,57   -0,43%
  • LQ45 756   -3,02   -0,40%
  • ISSI 275   -1,90   -0,69%
  • IDX30 401   -1,97   -0,49%
  • IDXHIDIV20 490   -0,83   -0,17%
  • IDX80 118   -0,43   -0,36%
  • IDXV30 138   -1,24   -0,89%
  • IDXQ30 129   -0,39   -0,30%

Dana Bank Mengalir ke SBN Saat Permintaan Kredit Masih Loyo


Senin, 20 April 2026 / 18:49 WIB
Dana Bank Mengalir ke SBN Saat Permintaan Kredit Masih Loyo
ILUSTRASI. Portofolio dana perbankan yang ditempatkan dalam Surat Berharga Negara (SBN) masih meningkat dalam empat bulan pertama tahun 2026. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Portofolio dana perbankan yang ditempatkan dalam Surat Berharga Negara (SBN) masih meningkat dalam empat bulan pertama tahun 2026. Fenomena ini mencerminkan kondisi likuiditas perbankan yang berlebih di tengah permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan bank pada SBN per 16 April 2026 mencapai Rp 1.320,56 triliun.

Angka tersebut meningkat 10,38% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.196,41 triliun.

Baca Juga: Pebisnis Masih Menahan Dana, DPK Korporasi Menumpuk di Bank

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit yang disalurkan perbankan pada Februari 2026 mencapai Rp 8.559 triliun atau tumbuh 9,37% YoY. Realisasi ini lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,63%.

Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, tingginya penempatan dana di SBN tidak lepas dari masih besarnya dana menganggur (undisbursed loan) yang mencapai sekitar Rp 2.500 triliun. Kondisi ini terjadi seiring pertumbuhan kredit, khususnya segmen UMKM, yang masih relatif melandai.

“Karena permintaan kredit masih landai, dana perbankan yang besar akhirnya diparkir di SBN,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (20/4/2026).

Menurut Bhima, selain faktor lemahnya penyaluran kredit, daya tarik imbal hasil SBN yang masih tinggi juga menjadi pendorong utama. Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,8% dan berpotensi naik hingga 7,2%–7,5%.

Dengan tingkat imbal hasil tersebut, bank dinilai lebih memilih menempatkan likuiditas di instrumen yang relatif aman dibandingkan menyalurkan kredit yang memiliki risiko lebih tinggi, terutama di tengah tekanan ekonomi seperti kenaikan harga energi dan potensi inflasi.

“Bank melihat SBN sebagai instrumen yang aman sekaligus memberikan return menarik, sementara risiko kredit, khususnya UMKM, masih cukup tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Amartha: Pembiayaan Inklusif Berkontribusi ke Pendapatan UMKM

Ia menambahkan, kondisi ini membuat bank berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, likuiditas melimpah, namun di sisi lain permintaan kredit belum cukup kuat untuk menyerap dana tersebut.

Bhima memperkirakan tren penempatan dana di SBN masih akan berlanjut, seiring belum pulihnya permintaan kredit secara signifikan. Apalagi, pemerintah masih aktif menerbitkan SBN dengan tingkat imbal hasil yang kompetitif.

“Ini bukan soal likuiditas semata, tapi over likuiditas. Permintaan kreditnya yang masih belum kuat,” imbuhnya.

Ke depan, perbankan diharapkan dapat lebih selektif dalam menyalurkan kredit sekaligus mencari peluang ekspansi di sektor-sektor yang memiliki risiko lebih terukur.

Di sisi lain, kata Bhima koordinasi dengan pemerintah juga diperlukan untuk mendorong permintaan kredit agar likuiditas yang besar dapat lebih optimal mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah bank besar juga terlihat mencatatkan kenaikan signifikan pada portofolio surat berharga mereka.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 444,84 triliun pada Februari 2026, meningkat 17,25% YoY. Adapun penyaluran kredit pada periode yang sama mencapai Rp 953,22 triliun atau tumbuh 5,84% YoY.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat lonjakan penempatan dana di surat berharga sebesar 25,21% YoY menjadi Rp 192,93 triliun pada Februari 2026. Di saat yang sama, penyaluran kredit BNI mencapai Rp 882 triliun atau tumbuh 18,90% YoY.

Adapun PT Bank Mandiri Tbk membukukan kenaikan penempatan di SBN sebesar 16,62% YoY menjadi Rp 295,58 triliun pada Februari 2026. Penyaluran kreditnya juga tumbuh 15,71% YoY menjadi Rp 1.513, triliun.

PT Bank Central Asia Tbk mencatat penempatan dana pada surat berharga sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara likuiditas dan ekspansi kredit.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan penempatan dana di surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas yang prudent sekaligus mendukung perekonomian nasional.

Baca Juga: Simpanan Kelas Menengah Bawah di Bank Mandiri Meningkat 3% pada Awal Tahun

"Pada prinsipnya, fungsi utama lembaga perbankan adalah sebagai sarana intermediasi ekonomi dalam artian penyaluran kredit," ungkap Hera kepada Kontan.co.id, Senin (20/4/2026).

Hera menerangkan, komposisi terbesar penempatan tersebut berada pada obligasi pemerintah, disertai instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. BCA berkomitmen untuk mengelola likuiditas secara prudent serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk, Kunardy Darma Lie, mengatakan porsi penempatan dana di SBN masih relatif tinggi sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar global.

Menurutnya, instrumen SBN menawarkan fleksibilitas likuiditas dengan risiko yang relatif rendah, sekaligus memberikan imbal hasil yang kompetitif. Kondisi ini membuat bank tetap dapat menjaga profitabilitas sambil menunggu momentum pertumbuhan kredit yang lebih kuat.

“SBN menjadi instrumen defensif yang relevan di tengah ketidakpastian global, sekaligus membantu menjaga stabilitas keuangan bank,” ujarnya.

Kunardy menegaskan, peningkatan portofolio SBN tidak mencerminkan pelemahan penyaluran kredit. KB Bank tetap menyalurkan kredit secara selektif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kualitas aset.

“Ini bagian dari strategi penyeimbangan portofolio agar ekspansi kredit tetap sehat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Jika dilihat dari laporan keuangan perseroan, KB Bank membukukan kenaikan tipis pada penempatan di SBN sebesar 0,22% YoY menjadi Rp 19,29 triliun pada Februari 2026. Di sisi lain, penyaluran kreditnya minus 3,13% YoY menjadi Rp 41,75 triliun.

Sejalan dengan itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, menyebut penempatan dana di SBN masih stabil didukung kondisi likuiditas yang ample.

Ia mengakui, permintaan kredit baik di segmen ritel maupun korporasi masih belum sepenuhnya pulih, sehingga SBN menjadi salah satu instrumen yang efektif dalam pengelolaan likuiditas.

“DPK masih tumbuh, terutama dana murah (CASA) yang porsinya di atas 70%, sehingga likuiditas tetap terjaga,” ujarnya. 

Jika dilihat, penempatan dana CIMB Niaga di surat berharga turun tipis 1,96% menjadi Rp 78,04 triliun. Sementara penyaluran kreditnya tumbuh 6,67% capai Rp 168 triliun pada Februari 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×