Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memperkuat struktur pendanaan pada awal 2026. Strategi penghimpunan dana murah (CASA) yang agresif berhasil menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) bank.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, hingga akhir Maret 2026 dana pihak ketiga (DPK) BRI tercatat tumbuh 9,4% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 1.555 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 13,2% yoy menjadi Rp 1.058,6 triliun.
Baca Juga: Laba IIF Melonjak 51% di 2025, Dividen Rp74 Miliar Siap Dibagikan
“Ini menunjukkan efektivitas strategi BRI dalam memperkuat CASA dan mengelola struktur pendanaan yang lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan,” ujar Hery dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, giro dan tabungan BRI masing-masing tumbuh double digit, yakni 15,6% yoy dan 11,5% yoy. Hery menyebut capaian tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya tabungan BRI menembus Rp 600 triliun atau tepatnya mencapai Rp 605,8 triliun.
Kenaikan CASA turut mendorong rasio CASA BRI menjadi 68,07%, meningkat dibandingkan posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 65,77%.
Hery menyebut peningkatan transaksi melalui kanal digital seperti BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan dana murah tersebut.
Dengan struktur pendanaan yang semakin solid, biaya dana BRI berhasil ditekan menjadi 2,3% pada kuartal I-2026, lebih kecil ketimbang posisi 3% pada kuartal I-2025.
Baca Juga: Adira Finance: Kebijakan Suku Bunga dan Kenaikan Yield Obligasi Pengaruhi Pendanaan
Di sisi lain, penguatan funding tersebut turut menopang kinerja keuangan bank secara keseluruhan. Hingga akhir Maret 2026, total aset BRI tumbuh 7,2% yoy menjadi Rp 2.250 triliun. Sementara kredit dan pembiayaan meningkat 13,7% yoy menjadi Rp 1.562 triliun.
Sejalan dengan itu, laba bersih konsolidasian BRI tercatat mencapai Rp 15,5 triliun atau tumbuh 13,7% yoy pada kuartal I-2026.
Hery menilai, capaian tersebut mencerminkan kemampuan BRI menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan efisiensi biaya dana.
“Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding, khususnya peningkatan CASA, turut menekan cost of fund,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












