Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan dana nasabah dengan nilai simpanan besar membuka ruang ekspansi bagi bisnis wealth management perbankan. Sejumlah bank mencatat peningkatan aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) seiring meningkatnya kebutuhan nasabah terhadap produk investasi dan layanan pengelolaan kekayaan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, total simpanan perbankan mencapai Rp 10.348,86 triliun hingga Juli 2026. Nilai tersebut tumbuh 0,4% secara bulanan dan 10,9% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan nominal simpanan, dana nasabah di atas Rp 5 miliar mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 17,3% yoy menjadi Rp 5.999,21 triliun.
Besarnya dana nasabah tersebut menjadi peluang bagi perbankan untuk memperluas bisnis wealth management, terutama melalui penyediaan produk investasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko nasabah.
Baca Juga: Kebijakan MDR QRIS 0% Berlaku Mulai 1 Oktober 2026, BTN Sesuaikan Tarif Merchant
PT Bank DBS Indonesia menjadi salah satu bank yang melihat tren peningkatan jumlah nasabah high net worth individuals (HNWI). Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan nasabah terhadap informasi dan produk investasi.
DBS, lanjut Boy, terus mengembangkan ragam produk dan layanan wealth management untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Jumlah customer kita kecenderungan trennya meningkat. Potensi wealth management kita akan semakin besar lagi ke depan," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/9/2026).
Kinerja bisnis wealth management DBS juga tercermin dari pertumbuhan pengelolaan aset pada semester I 2026. DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan total Asset Under Management (AUM) sebesar 13% secara tahunan.
Rata-rata AUM per nasabah turut meningkat 15%. Sementara itu, Total Income tumbuh 34%, didorong oleh Investment Fee Income yang meningkat 65%. Adapun Net Profit After Tax (NPAT) tumbuh 24%.
Baca Juga: Eksportir Manfaatkan DHE SDA untuk Agunan Kredit, Peluang Baru bagi Bank & Eksportir
Dari sisi pilihan investasi, Boy menyebut obligasi menjadi salah satu instrumen yang banyak diminati nasabah. Sebagian nasabah mulai mengalihkan portofolio ke aset dengan tingkat eksposur risiko yang lebih rendah.
"Customer kita juga banyak yang berinvestasi di obligasi. Mereka sudah mulai shifting ke aset yang mungkin risiko exposure-nya lebih rendah. Kalau memang ingin dapat cash flow, bisa shifting dari obligasi yang dulu jangka panjang ke obligasi tenor pendek," kata Boy.
Menurut Boy, strategi tersebut dapat membantu nasabah tetap memperoleh imbal hasil sekaligus mengurangi risiko akibat volatilitas. Selain obligasi, DBS juga menyediakan berbagai instrumen investasi lainnya, seperti reksa dana pendapatan tetap, valuta asing dan structured product.
BCA Catat Kenaikan AUM Reksa Dana dan Obligasi
Pertumbuhan bisnis wealth management juga tercatat di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Hingga Juni 2026, AUM reksa dana dan obligasi BCA meningkat lebih dari 15% yoy.
Baca Juga: Lakukan Perubahan RKPUS, Tugu Insurance Alihkan Portofolio Kepesertaan UUS
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan AUM reksa dana yang mencapai lebih dari 50% yoy.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap yang mencatat pertumbuhan AUM.
"Peningkatan AUM tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan fee based income BCA," kata Hera kepada Kontan, Rabu (29/9/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














