kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Defisit Neraca Pembayaran 2008 US$ 2,2 M


Senin, 12 Januari 2009 / 08:45 WIB
Defisit Neraca Pembayaran 2008 US$ 2,2 M


Sumber: KONTAN | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Tekanan terhadap neraca pembayaran Indonesia (NPI) 2008 lalu cukup berat. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Desember 2008 neraca pembayaran mengalami defisit US$ 2,2 miliar.

Ini berarti aliran modal ke luar negeri lebih deras ketimbang yang masuk. Berdasarkan pengamatan BI, kebanyakan duit yang mengalir keluar adalah dana yang semula terparkir di Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Derasnya arus duit keluar sudah terlihat sejak triwulan ketiga 2008. Hot money terus mengempis hingga triwulan keempat. Karenanya, cadangan devisa yang tersisa di BI hingga akhir Desember 2008 sebesar US$ 51, 6 miliar. Itupun setelah mendapat suntikan duit segar dari cairnya utang luar negeri pemerintah yang berasal dari bank dunia dan bank pembangunan Asia.

Selain kaburnya duit asing, Ekonom PT BRI Tbk. Djoko Retnadi menilai, salah satu penyebab defisit neraca pembayaran tersebut adalah nilai ekspor yang turun akibat melemahnya harga komoditas. "Tetapi, kemudian diperdalam dengan volume yang turun karena permintaan juga menurun," katanya Ahad (11/1).

Sebaliknya nilai impor terus meningkat, dibarengi dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Permintaan dari dalam negeri terhadap produk impor meningkat," katanya.

Prospek 2009

BI juga mencatat sepanjang Januari-Oktober 2008 perdagangan minyak Indonesia mengalami defisit US$ 8,3 miliar. Untungnya ekspor gas yang masih bisa surplus US$ 6,4 miliar bisa mengurangi tekanan tersebut.

Yang mengkhawatirkan, BI memperkirakan, tekanan terhadap neraca pembayaran Indonesia masih belum berkurang hingga tahun ini. BI menyebutkan beberapa indikator pendukung asumsinya. Antara lain, penurunan nilai ekspor bakal terus berlanjut, sementara permintaan impor meski turun tapi tak sedalam melemahnya ekspor.

Kondisi ini yang akan menyebabkan neraca pembayaran Indonesia kembali tertekan pada tahun ini. BI memperkirakan bakal terjadi defisit neraca pembayaran sebesar 0,11% dan cadangan devisa tertahan di US$ 51 miliar.

Tapi Djoko lebih optimistis dari BI. Dia memperkirakan defisit memang berlangsung sampai dengan triwulan pertama 2009 ini. Pada triwulan kedua dia memperkirakan harga komoditas akan kembali naik dan dari sisi modal juga akan mengalami perbaikan karena terjadi capital inflow.

Sedang arus modal akan kembali membaik karena dana asing akan tertarik masuk ke pasar saham dan obligasi di dalam negeri. Apalagi Pemerintah sudah menggaungkan rencana untuk menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam jumlah besar.

Sebelumnya, di laporan Economic Outlook Bank Danamon, ekonom Bank Danamon Helmi Arman juga optimistis neraca pembayaran 2009 akan surplus. "Seiring penurunan harga komoditas, nilai ekspor Indonesia otomatis ikut merosot. Tapi, penurunan ekspor diimbangi penurunan impor," ulas Helmi.

Helmi memperkirakan, neraca pembayaran akan surplus hingga US$ 4 miliar pada penghujung 2009 ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×