Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tingginya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tantangan utama bagi industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Meski demikian, PT BPR Jatim menilai kualitas aset perseroan berada pada kondisi yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata industri.
Direktur Utama BPR Jatim Irwan Eka Wijaya Arsyad mengatakan, hingga akhir 2025 perseroan mencatatkan rasio NPL gross sebesar 7,5%, dengan NPL net berada di kisaran 3%–3,5%.
Baca Juga: BTN: Simpanan Kelas Menengah Masih Stabil, Fokus Genjot CASA pada 2026
Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata NPL industri BPR nasional yang masih berada di level sekitar 12%.
“Ini menjadi modal penting bagi kami untuk tetap mendorong pertumbuhan bisnis,” ujar Irwan kepada awak media, Kamis (22/1/2026).
Irwan mengakui, penyaluran kredit ke sektor produktif, khususnya UMKM, memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi apabila tidak dibarengi dengan formula penyaluran kredit serta pengelolaan risiko yang memadai.
Pertumbuhan kredit yang agresif tanpa penguatan manajemen risiko, menurutnya, berpotensi mendorong lonjakan NPL dalam waktu singkat.
Seiring dengan ekspansi kredit sepanjang 2025, BPR Jatim pun memperkuat fundamental manajemen risiko di seluruh unit kerja.
Langkah ini dilakukan agar laju pertumbuhan bisnis tetap sejalan dengan pengendalian risiko.
Baca Juga: BPR Jatim Masuk ke Bisnis Emas, Bidik Pertumbuhan Kredit 30% pada 2026
Irwan menambahkan, fondasi manajemen risiko yang telah dibangun pada tahun sebelumnya memberikan keyakinan bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi kredit pada 2026 tanpa mengorbankan kualitas aset.
“Tahun lalu kami membangun bisnis sekaligus memperkuat manajemen risiko. Dengan fondasi ini, kami optimistis pertumbuhan kredit ke depan tetap bisa dijaga agar NPL tetap terkendali,” jelasnya.
Dengan posisi NPL yang lebih rendah dibandingkan rata-rata industri, BPR Jatim menilai perseroan memiliki ruang yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan UMKM secara berkelanjutan.
“Kondisi kami relatif lebih baik. NPL masih berada di batas bawah industri, sehingga kami tetap optimistis mendorong pertumbuhan bisnis ke depan,” pungkas Irwan.
Selanjutnya: Pidato Prabowo di WEF 2026: Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Menarik Dibaca: Bukan Cuma Hantu, 7 Film Horor Thailand Ini Punya Plot Twist Tak Terduga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













