Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap simpanan masyarakat kelas menengah bawah masih terasa di industri perbankan seiring melemahnya daya beli. Namun, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menilai kinerja simpanan nasabah di perseroan relatif lebih stabil dibandingkan tren industri.
Rully Setiawan, Direktur Network & Retail Funding BTN, menyampaikan bahwa simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp 500 juta masih mencatatkan pertumbuhan secara tahunan (year-on-year), khususnya pada produk tabungan dan giro.
Sementara itu, simpanan dalam bentuk deposito memang masih mengalami penurunan di seluruh segmen nasabah, seiring adanya penyesuaian tingkat suku bunga.
“Secara umum tren simpanan masyarakat kelas menengah bawah memang tertekan, sejalan dengan data LPS. Namun di BTN, simpanan dengan saldo di bawah Rp 500 juta masih tumbuh secara tahunan pada produk tabungan dan giro,” ujar Rully kepada kontan.co.id, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, BTN Menilai Dampak ke Kualitas Aset Terbatas
BTN mencatat, pada awal Januari 2026 mulai terlihat perbaikan posisi simpanan dibandingkan Desember 2025, meskipun peningkatannya masih terbatas. Kondisi ini dinilai mencerminkan mulai tumbuhnya sentimen positif di kalangan nasabah ritel.
Memasuki 2026, BTN mengakui tantangan daya beli masyarakat masih akan membayangi. Kendati demikian, perseroan tetap optimistis pertumbuhan simpanan dapat dijaga dengan fokus pada segmen ritel dan masyarakat menengah bawah.
Untuk mendukung hal tersebut, BTN menargetkan penguatan dana murah atau current account saving account (CASA) yang bersifat low cost dan berkelanjutan. Strategi ini diarahkan melalui penguatan segmen gaya hidup, payroll, dan UMKM.
“Dengan kemudahan akses pembukaan rekening, layanan yang lebih fleksibel, serta transaksi melalui berbagai channel, kami optimistis basis nasabah akan semakin luas,” jelas manajemen BTN.
Dari sisi kebijakan suku bunga, BTN menegaskan bahwa Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS tetap menjadi acuan utama dalam penetapan bunga simpanan. Sepanjang 2025, Bank Indonesia dan LPS telah menurunkan suku bunga acuan dan penjaminan masing-masing sebanyak lima kali dan empat kali.
Menindaklanjuti hal tersebut, BTN juga melakukan penyesuaian baik pada counter rate maupun special rate simpanan. Evaluasi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta perhitungan cost of funds.
“TBP tetap menjadi acuan utama, namun fleksibilitas tetap kami jaga agar sesuai dengan kebutuhan nasabah dan kondisi pasar,” imbuhnya.
Ke depan, BTN akan terus menggenjot penghimpunan dana dengan memperkuat produk tabungan yang sesuai kebutuhan masyarakat, memperluas layanan digital, serta meningkatkan literasi keuangan. Perseroan juga aktif mendorong kampanye menabung sejak dini, menghadirkan program reward berbasis transaksi, serta melakukan bundling dengan produk pembiayaan.
“Fokus kami adalah memperkuat CASA yang berbiaya rendah dan berkelanjutan, sehingga pertumbuhan dana pihak ketiga tetap sehat sekaligus menjaga efisiensi biaya bank,” pungkas Rully.
Selanjutnya: Miliarder Properti Singapura Lepas Cuppage Terrace, Ini Imbas ke Pasar
Menarik Dibaca: Bukan Cuma Hantu, 7 Film Horor Thailand Ini Punya Plot Twist Tak Terduga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













