kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   4.000   0,14%
  • USD/IDR 16.913   12,00   0,07%
  • IDX 8.271   -38,78   -0,47%
  • KOMPAS100 1.165   -3,95   -0,34%
  • LQ45 835   -3,12   -0,37%
  • ISSI 296   -0,46   -0,16%
  • IDX30 437   -0,87   -0,20%
  • IDXHIDIV20 521   -3,99   -0,76%
  • IDX80 130   -0,48   -0,37%
  • IDXV30 144   0,46   0,32%
  • IDXQ30 140   -1,19   -0,85%

Dirut BRI: Perlambatan Kredit Bukan Karena Keterbatasan Likuiditas


Kamis, 19 Februari 2026 / 13:33 WIB
Dirut BRI: Perlambatan Kredit Bukan Karena Keterbatasan Likuiditas
ILUSTRASI. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi (Dok/BRI)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi melihat perlambatan pertumbuhan kredit saat ini bukan disebabkan keterbatasan likuiditas. Melainkan lebih dipengaruhi struktur sektoral ekonomi dan sisi permintaan yang belum pulih sepenuhnya.

Hery mengatakan, ketika konsumsi melambat, margin usaha tertekan dan ekspansi bisnis langsung tertahan. Kondisi tersebut pada akhirnya tercermin pada pertumbuhan kredit yang ikut melemah.

“Artinya, moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas,” ujar Hery dalam Webinar Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026).

Baca Juga: Dirut BRI Beberkan Tiga Sektor yang Berperan dalam Perlambatan Kredit

Menurutnya, meskipun pemerintah telah mengguyur likuiditas tambahan ke sistem perbankan, pertumbuhan kredit tetap sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi Indonesia yang masih didominasi sektor padat karya dan sensitif terhadap siklus.

Maka itu, ia bilang, diversifikasi portofolio pembiayaan dan peningkatan kredit ke sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas terhadap siklus ekonomi.

Saat ini, menurut Hery kebijakan fiskal dan moneter sudah dilihat kredibel dan prudent oleh pasar. Namun, optimisme di level makro tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi nyata di tingkat pelaku usaha.

“Sebagian besar pelaku usaha masih berada pada posisi cukup setuju, belum sampai pada level keyakinan kuat untuk mempercepat investasi ataupun ekspansi,” jelasnya.

Hery menilai terdapat celah antara persepsi positif terhadap kebijakan dan keputusan bisnis di lapangan. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi pada desain kebijakan, melainkan pada percepatan transmisi dan realisasi dampaknya ke sektor ril.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah Jelang Pengumuman RDG BI Kamis (19/2/2026)

Karena itu, fokus kebijakan perlu bergeser dari sekadar narasi optimisme menuju akselerasi implementasi yang benar-benar dirasakan dunia usaha.

Jika tidak, fase pertumbuhan single digit kredit bisa terulang tahun ini. “Bukan karena likuiditas terbatas. Dana tersedia, deposito tetap tumbuh. Tantangannya ada pada sisi permintaan,” kata Hery.

Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta ekspansi dunia usaha yang masih selektif menjadi faktor utama tertahannya penyaluran kredit. Menurut Hery, kondisi saat ini merupakan fase normalisasi pertumbuhan kredit. Bukan krisis, tetapi juga bukan fase ekspansi agresif.

Dalam fase tersebut, kata Hery, kualitas pertumbuhan menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan kredit yang tinggi.

Selanjutnya: Ekonomi Lesu dan Bank Hati-Hati Salurkan Kredit, Paylater Jadi Alternatif Masyarakat

Menarik Dibaca: Tak Sekadar Brand Ambassador, ​Cristiano Ronaldo Kini Jadi Investor Herbalife

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×