Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring dengan berkembangnya teknologi, ekspansi bisnis perbankan saat ini semakin ditentukan pada seberapa kuat layanan digitalnya. Maka tak ayal, banyak bank kian berlomba untuk meningkatkan kapabilitas sistem digital.
Salah satunya adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Bank syariah milik pemerintah ini baru saja memperbarui sistem operasional utama alias core back office.
Peningkatan sistem ini ditujukan agar server BSI bisa menampung lebih banyak data nasabah. Adapun hingga kuartal 1-2026 ini, BSI telah memiliki 23,67 juta nasabah.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut, jumlah nasabah BSI kian bertambah pesat sejak pertama kali berdiri sendiri lima tahun lalu.
Baca Juga: Pendapatan Manulife Syariah Melonjak 354,28% Tembus Rp 302,1 Miliar pada 2025
"Sebagai komitmen melayani sepenuh hati kepada nasabah, pada 13-16 Mei lalu kami telah meningkatkan kualitas layanan BSI agar semakin cepat, andal dan modern," kata Wisnu saat dihubungi belum lama ini.
Peningkatan core back office ini tidak hanya mampu memperbesar kapasitas data nasabah, tapi juga memungkinkan layanan digital BSI yang lebih cepat dan aman.
Adapun hingga kuartal 1-2026, BSI telah mengeluarkan biaya modal belanja alias capital expenditure untuk teknologi informasi (capex IT) sebesar Rp 121 miliar.
"Hal ini dilakukan guna mendukung visi BSI untuk bisa masuk dalam tatanan bank syariah berstandar global," kata Wisnu.
Senada, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga tidak main-main mengoptimalkan skala bisnis digitalnya. Untuk tahun 2026 ini, CIMB Niaga menganggarkan lebih dari Rp 1 triliun untuk capex IT.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, anggaran capex IT itu akan digunakan untuk memperkuat jaringan data, keamanan siber, hingga pemutakhiran layanan.
Adapun Lani bilang, CIMB Niaga memang konsisten menyiapkan anggaran capex IT yang besar setiap tahun. Itu dilakukan guna mendorong pertumbuhan bank di tengah persaingan industri.
"Budget capex IT kami konsisten secara tahunan berada di sekitar angka Rp 1 triliun," kata Lani.
Baca Juga: Tenor KPR Akan Diperpanjang Hingga 40 Tahun, Bank Siapkan Strategi Agar Tak Macet
CIMB Niaga memang saat ini tengah memfokuskan perkembangan layanan digitalnya sejalan dengan minat nasabahnya yang kian beralih ke layanan non-fisik.
Ini tercermin dari data transaksi CIMB Niaga. Hingga kuartal 1-2026, CIMB Niaga mencatat 90,6% transaksi keuangan nasabahnya sudah dilakukan lewat kanal digital.
PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) juga tidak ketinggalan mendorong digitalisasi. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie bilang, penguatan digital harus dilakukan guna memberi layanan yang unggul pada nasabah.
Kunardy menyebut, investasi digital KB Bank tahun ini lebih difokuskan pada keamanan siber serta efisiensi operasional.
"KB Bank juga melanjutkan modernisasi core banking dan infrastruktur sistem pembayaran untuk mendukung peningkatan transaksi digital, interoperabilitas pembayaran, serta layanan keuangan yang lebih cepat dan efisien," tambahnya.
Menurut Kunardy, digitalisasi layanan di industri perbankan sudah bukan pilihan lagi, tapi hal yang harus dilakukan. Teknologi adalah fondasi strategis untuk memperkuat daya saing dan pengelolaan risiko di era digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













