kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   -48.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

DPK Melambat, Perbankan Perkuat Strategi Kejar Dana Murah


Minggu, 30 Agustus 2026 / 15:15 WIB
DPK Melambat, Perbankan Perkuat Strategi Kejar Dana Murah
ILUSTRASI. KB Bank (DOK/KB Bank)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mulai melambat di tengah ekspansi kredit yang justru semakin kuat.

Kondisi ini mencerminkan persaingan perbankan dalam menghimpun likuiditas sekaligus menjaga biaya dana (cost of fund/CoF) di tengah dinamika suku bunga.

Baca Juga: Penyaluran Pembiayaan MUF Syariah Tumbuh 4,3% hingga Juli 2026

Berdasarkan laporan Analisis Uang Beredar Bank Indonesia (BI), DPK perbankan hingga Juli 2026 tumbuh 7,7% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 9.666,9 triliun. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 8,1% YoY.

Di sisi lain, kredit perbankan tumbuh lebih pesat sebesar 13% YoY menjadi Rp 8.970,2 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan kredit tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 12,1% YoY.

Perbedaan laju pertumbuhan antara DPK dan kredit tersebut menjadi perhatian karena perbankan perlu memastikan ketersediaan likuiditas untuk menopang ekspansi kredit, sembari menjaga biaya penghimpunan dana tetap efisien.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, perlambatan pertumbuhan DPK salah satunya dipengaruhi strategi perbankan dalam menjaga efisiensi biaya dana.

Baca Juga: Bank Jakarta Perkuat Inklusi Keuangan, Bidik Pelajar sebagai Segmen Strategis

Menurut dia, kondisi tersebut semakin relevan setelah terjadi kenaikan suku bunga acuan hingga 100 basis poin sejak awal tahun.

"Kondisi tersebut turut mendorong perbankan untuk mengelola komposisi pendanaan secara lebih optimal," ujar Kunardy kepada Kontan, dikutip Minggu (30/8/2026).

Selain faktor biaya dana, perubahan preferensi nasabah juga turut memengaruhi penghimpunan DPK.

Menurut Kunardy, nasabah kini memiliki lebih banyak pilihan instrumen investasi dengan karakteristik imbal hasil dan risiko yang dinilai lebih menarik.

Ketidakpastian global dan dinamika pasar membuat sebagian dana masyarakat berpotensi beralih dari simpanan perbankan ke instrumen investasi lainnya.

Dengan kondisi tersebut, menyimpan dana di bank dalam bentuk DPK tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan bagi nasabah.

Baca Juga: PT SMI Kucurkan Rp 25 Miliar untuk Perbaikan 8 Ruas Jalan Strategis Gunungsitoli

Bank Kejar Dana Murah

Di KB Bank, DPK tumbuh 12,44% YoY hingga Juni 2026, sementara kredit tumbuh 4,37% YoY. Realisasi penghimpunan DPK tersebut telah mencapai sekitar 94% dari target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).

Meski deposito masih menjadi kontributor terbesar DPK KB Bank dengan porsi 67%, Kunardy mengatakan perseroan akan terus meningkatkan porsi dana murah berbasis transaksional.

Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan ekosistem digital dan bisnis korporasi. Penguatan dana murah dinilai penting untuk membantu bank menjaga efisiensi biaya dana di tengah persaingan penghimpunan likuiditas.

Baca Juga: AAUI Ungkap Tantangan di Industri Asuransi Saat Garap Proyek PLTS 100 GWp

Sementara itu, Maybank Indonesia mencatat pertumbuhan DPK sebesar 8,26% YoY, sedangkan kredit tumbuh 4,87% YoY.

Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia Bianto Surodjo mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan strategi perseroan dalam memperkuat bisnis, terutama menjelang konsolidasi konglomerasi Maybank pada kuartal III-2026.

Konsolidasi tersebut dinilai membuka peluang bisnis melalui penguatan cross-selling dan cross-solution dengan anak-anak usaha dalam grup.

"Dengan begitu, dapat mendatangkan nasabah dan bisnis yang lebih besar, termasuk di dalamnya bisnis-bisnis yang membutuhkan pendanaan," kata Bianto.

Di tengah risiko pengetatan likuiditas industri perbankan, Maybank Indonesia juga terus mendorong pertumbuhan pendanaan dari nasabah, baik melalui produk konvensional maupun syariah.

Baca Juga: Wujudkan Rumah Nyaman di Danantara Expo 2026 Bersama BRI

BSI Unggulkan Dana Murah

Berbeda dengan tren industri, Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan DPK yang lebih tinggi. Hingga Juni 2026, DPK BSI tumbuh 21,81% YoY menjadi Rp 393,34 triliun.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, pertumbuhan DPK BSI terutama ditopang oleh dana murah, khususnya tabungan yang mencapai Rp 172,81 triliun.

Kondisi tersebut membuat rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) BSI mencapai 60,58%.

"Rasio ini cukup baik mengingat dana murah menjadi target BSI pada perbaikan biaya dana. CoF BSI turun dari 2,58% pada akhir 2025 menjadi 2,19% pada Juni 2026," ujar Wisnu.

Penurunan CoF tersebut menunjukkan semakin besarnya kontribusi dana murah terhadap struktur pendanaan BSI.

Dengan biaya dana yang lebih rendah, ruang bank untuk menjaga margin sekaligus mendukung pertumbuhan pembiayaan menjadi lebih besar.

Baca Juga: Distribusi Semakin Luas, Bisnis Pembiayaan Syariah Masih Moncer

BSI juga terus memperluas basis nasabah untuk menopang pertumbuhan dana murah. Dalam lima tahun terakhir, jumlah nasabah BSI telah mencapai 24,3 juta.

Menurut Wisnu, transformasi digital menjadi salah satu strategi utama BSI untuk memperluas penghimpunan dana murah, khususnya melalui produk tabungan.

"Untuk itu kami terus memperkuat transformasi digital sebagai gate awal masuknya dana murah yakni tabungan," imbuhnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan strategi penghimpunan DPK perbankan ke depan tidak hanya bergantung pada besarnya suku bunga simpanan.

Kemampuan bank membangun ekosistem transaksi, memperluas basis nasabah, dan meningkatkan porsi dana murah menjadi semakin penting untuk menjaga likuiditas sekaligus menekan biaya dana di tengah pertumbuhan kredit yang lebih cepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×