kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ekonomi digital buka peluang lapangan pekerjaan yang besar


Jumat, 06 April 2018 / 11:37 WIB
Ekonomi digital buka peluang lapangan pekerjaan yang besar
ILUSTRASI. Layanan The New Go Mobile dari Bank CIMB Niaga

Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menghadapi tantangan ekonomi digital, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Halim Alamsyah menggarisbawahi pentingnya keamanan digital. Apalagi setelah bocornya data-data pelanggan dari situs media sosial Facebook, yang menunjukkan pentingnya keamanan dalam bidang tersebut. Artinya, ada banyak lapangan pekerjaan menarik yang bisa digali dari perubahan ini.

"Yang harus kita diskusikan juga adalah mengenai keamanan data. Ini adalah hal yang sebelumnya dianggap sepele tapi sepertiga penduduk dunia memiliki akun Facebok," kata Halim dalam pidato Breakfast Forum Digital Economy yang diselenggarakan Bank Indonesia bersama KONTAN, di Pullman Hotel, Jumat (6/4).

Namun, bukan berarti masyarakat harus khawatir dengan isu keamanan, justru hal tersebut membuka kesempatan lapangan kerja baru di bidang sekuritas berbasis digital.

Halim mengutip data World Economy Forum (WEF) yang memprediksi akan adanya 6 juta pekerjaan baru hingga tahun 2025 berkat perkembangan di bidang bidang logistik dan elektrifikasi yang kian digital. Bagi Indonesia, kesempatan ini harus dikejar dengan terus mengembangkan regulasi dan sumber daya manusianya agar siap dengan perubahan tersebut.

Dari sisi finansial, Halim melihat digitalisasi bisa membuka peluang bisnis baru dan menambah jalur pemasaran tradisional menuju direct to consumer, peer to peer, crowd funding dan lending.

"Akan ada distribusi teknologi finansial yang besar seiring dengan digitalisasi ini," katanya.

Namun, bukan berarti pemerintah dan masyarakat bisa membuka tangan lebar pada perubahan ini. Ada sejumlah hal yang harus dikaji terlebih dahulu. Pertama, dampak ekonomi digital pada sosial kemasyarakatan. Kedua, kekhawatiran digitalisasi bisa diikuti oleh ketidakmerataan. Ketiga, bagaimana pemerintah bisa meregulasi dan menilai teknologi mana yang baik dan yang tidak.

"Nah sekarang bagaimana pemerintah, menciptakan peraturan yang bisa menimbulkan dampak yang berkelipatan atau multiplyer effect," jelas Halim.




TERBARU

×