kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Laba Asuransi Jiwa Naik Meski Premi Tertekan, Begini Penjelasan AAJI


Senin, 09 Februari 2026 / 20:55 WIB
Laba Asuransi Jiwa Naik Meski Premi Tertekan, Begini Penjelasan AAJI
ILUSTRASI. Laba industri asuransi jiwa melonjak 27,73% per November 2025, padahal premi terkontraksi. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, industri asuransi jiwa mencetak kenaikan laba sebesar 27,73% secara Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 9,87 triliun per November 2025. Di sisi lain, pendapatan preminya masih terkontraksi sebesar 0,75% YoY, dengan nilai Rp 163,88 triliun. 

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menjelaskan profitabilitas perusahaan asuransi jiwa pada dasarnya dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu pendapatan premi, kewajiban klaim, dan hasil investasi.

Direktur Eksekutif AAJI Emira Oepangat mengatakan pada 2025, tekanan pada pendapatan premi memang masih terjadi, seiring daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. 

Baca Juga: OJK Beri Izin Usaha PT Asuransi Tri Pakarta Syariah

"Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mencerminkan lemahnya bisnis inti," ungkapnya kepada Kontan, Senin (9/2/2026).

Emira menerangkan hal itu dibuktikan dengan data AAJI, jumlah tertanggung industri asuransi jiwa justru meningkat signifikan menjadi 151,56 juta orang per September 2025, atau tumbuh 12,8% secara Year on Year (YoY). Pertumbuhan terjadi baik pada segmen perorangan maupun kumpulan. 

Dia bilang hal itu menunjukkan bahwa minat dan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan asuransi jiwa tetap kuat, meskipun terjadi penyesuaian dalam pola pembayaran premi.

Lebih lanjut, Emira menerangkan dinamika premi yang terjadi lebih mencerminkan penyesuaian struktur pendapatan, dengan pergeseran menuju premi reguler yang bersifat lebih berkelanjutan. Jika dilihat secara weighted atau disetahunkan, dia menyebut pendapatan premi industri tetap mencatat pertumbuhan sekitar 4% YoY. 

"Dengan demikian, peningkatan laba yang didukung oleh hasil investasi dapat dipahami sebagai bagian dari kinerja keuangan yang adaptif dan terdiversifikasi, bukan sebagai indikasi lemahnya fundamental bisnis inti," kata Emira.

Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha Estika Jasatama Insurance Brokers and Consultans

Mengenai kondisi itu, IFG Progress menilai memang ada beberapa faktor yang menyebabkan laba asuransi jiwa tetap naik, meski premi tertekan.

Plt Head of IFG Progress Ibrahim Rohman berpendapat memang laba industri asuransi jiwa pada tahun lalu diselamatkan oleh kinerja hasil investasi yang positif.

Asal tahu saja, hasil investasi industri asuransi jiwa meningkat sebesar 95,93% secara YoY, dengan nilai mencapai Rp 41,38 triliun per November 2025

"Investment return-nya masih menyelamatkan. Tak terlepas dari karakteristik asuransi jiwa yang memang investment dependent. Mereka sangat didukung oleh hasil investasi. Jadi, kalau hasil investasi drop, itu bisa berpengaruh (ke laba)," ungkapnya saat ditemui Kontan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).

Mengenai tertekannya premi, Ibrahim menilai hal tersebut tak terlepas dari menurunnya kinerja premi dari unitlink yang menjadi penopang. Dengan menurunnya kontribusi unitlink, dia mengatakan hal itu bisa menyebabkan premi industri ikut menurun.

Meskipun demikian, Ibrahim menyebut kondisi itu menunjukkan bahwa masyarakat makin tahu bahwa fungsi dari asuransi itu proteksi, bukan investasi. 

"Kalau mau investasi, ya, ke pasar modal atau stock market. Bukan dua-duanya mereka inginkan, proteksi  dan investasi, karena fungsinya memang berbeda. Jadi, menurut saya ada proses re-balancing dari sisi demand dan supply," tuturnya.

Ibrahim menerangkan kondisi itu menunjukkan juga masyarakat sudah selektif memilih produk asuransi, yakni bergesernya pilihan dari unitlink ke proteksi. Dia menambahkan peralihan itu juga membuat masyarakat makin memahami manfaat dari produk asuransi. 

"Experience studying-nya di sana," kata Ibrahim.

Dari sisi perusahaan asuransi, Ibrahim menilai mereka juga akan berusaha untuk berkreasi mengeluarkan produk-produk yang relevan sesuai dengan kemampuan masyarakat dan menghasilkan produk-produk yang sustainable. Dia mengatakan cara itu juga yang nantinya berpotensi menopang profitabilitas industri, yakni melalui sisi penyedia produk. 

"Menurut saya demikian, sambil memperbaiki Asset Liability Management (ALM) atau Manajemen Aset dan Liabilitas dan segala macam," ucap Ibrahim. 

Selanjutnya: Wamendag Tinjau Pasokan dan Harga Bapok di Pasar Cisalak Depok

Menarik Dibaca: 10 Jus yang Paling Cepat Turunkan Kolesterol Tinggi, Mau Coba?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×