kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Gara-gara corona, hasil investasi asuransi jiwa minus Rp 47,05 triliun di kuartal I


Minggu, 28 Juni 2020 / 19:57 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi polis asuransi jiwa Sequis Life.


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Yudho Winarto

"Aturan PSBB itu kan membuat hampir semua mesin perekonomian berhenti untuk berproduksi. Akibatnya pertumbuhan ekonomi jadi melambat," terangnya.

Namun Togar, tidak dapat memproyeksi berapa pertumbuhan hasil investasi industri sampai akhir tahun. Itu semua bergantung, dari kapan berakhirnya pandemi. Jika vaksin corona ditemukan, maka situasi akan membaik.

PT BNI Life Insurance menyiapkan strategi untuk perbaiki kinerja investasi pada kuartal III 2020. Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan mengatakan, perusahaan akan mengurangi portofolio saham secara signifikan karena tingginya volatilitas harga saham.

"Kami akan menaikkan porsi government bond, dan melakukan trading secara aktif pada instrumen obligasi pemerintah," ungkapnya.

Selain itu, BNI Life juga menaikkan porsi likuiditas untuk mengantisipasi turunnya premi dan naiknya klaim di masa mendatang.

Baca Juga: Perusahaan asuransi jiwa sambut positif penjualan unitlink secara digital

Seperti diketahui, pada kuartal I 2020, hasil investasi BNI Life minus Rp 936,37 miliar. Mayoritas investasi perusahaan ke instrumen reksadana, surat berharga negara dan obligasi korporasi.

Menurutnya, penurunan utama disebabkan, portofolio unitlink yang didominasi saham sesui pilihan nasabah. Selain itu, portofolio non link yang didominasi obligasi dan reksadana berbasis Obligasi juga terkoreksi.

"Pada Maret 2020 terjadi koreksi yang cukup dalam atas harga mark to market obligasi. Tapi pada bulan April dan Mei sudah rebound cukup signifikan terutama pada instrumen obligasi, demikian juga pada bulan Juni," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×