kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

GWM rataan berlaku, Mayapada optimistis kredit tumbuh 18%


Senin, 16 Juli 2018 / 17:30 WIB
ILUSTRASI. Bank Mayapada


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mulai Senin (16/7) ini aturan relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) diberlakukan. Pasca penerapan aturan ini, bank optimistis target penyaluran kreditnya bakal tercapai.

Hariyono Tjahjarijadi, Presiden Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk menyatakan GWM rataan bertujuan memudahkan perbankan untuk mengatur penempatan dana GWM di Bank Indonesia, sehingga ada keleluasaan.

"Dengan berjalan penuhnya GWM averaging diharapkan likuiditas di pasar menjadi lebih baik lagi," ujar Hariyono kepada Kontan.co.id pada Senin (16/7). 

Nantinya hal ini akan lebih banyak berpengaruh pada likuiditas perbankan. Bila likuiditas bank semakin baik, artinya bank lebih longgar dalam menyalurkan kreditnya.

Oleh sebab itu, Hariyono optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di 2018 ini sebesar 17%-18% pada tahun ini. 

Catatan saja, dua poin relaksasi GWM averaging yang berlaku per hari ini, pertama adalah penambahan GWM rataan rupiah bank umum. Dalam aturan ini, GWM tetap bank akan diturunkan menjadi 4,5% dari sebelumnya 5%. 

Sedangkan GWM rataan dinaikkan menjadi 2% dari sebelumnya 1,5%. Poin kedua adalah penihilan jasa giro menjadi 0% dari sebelumnya 2,5%.

Per Juni 2018, penyaluran kredit Bank Mayapada mencapai Rp 60,85 triliun, tumbuh 18,04% secara tahunan dibandingkan Juni 2017 Rp 51,55 triliun. Namun Hariyono mengaku pelonggaran likuiditas tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk melakukan ekspansi kredit.

"Masing-masing bank punya hitungan dan kebutuhannya sendiri. Jadi yang mendatangkan yield tinggi masih kredit. Namun kalau permintaan kredit tidak ada, bisa ditempatkan ke banyak instrumen lainnya," jelas Hariyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×