kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.015   -34,00   -0,20%
  • IDX 7.151   102,46   1,45%
  • KOMPAS100 987   15,12   1,56%
  • LQ45 724   8,45   1,18%
  • ISSI 255   4,01   1,60%
  • IDX30 392   3,86   0,99%
  • IDXHIDIV20 488   0,46   0,10%
  • IDX80 111   1,56   1,42%
  • IDXV30 135   -0,06   -0,04%
  • IDXQ30 128   1,13   0,89%

GWM rataan berlaku, Mayapada optimistis kredit tumbuh 18%


Senin, 16 Juli 2018 / 17:30 WIB
GWM rataan berlaku, Mayapada optimistis kredit tumbuh 18%
ILUSTRASI. Bank Mayapada


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mulai Senin (16/7) ini aturan relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) diberlakukan. Pasca penerapan aturan ini, bank optimistis target penyaluran kreditnya bakal tercapai.

Hariyono Tjahjarijadi, Presiden Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk menyatakan GWM rataan bertujuan memudahkan perbankan untuk mengatur penempatan dana GWM di Bank Indonesia, sehingga ada keleluasaan.

"Dengan berjalan penuhnya GWM averaging diharapkan likuiditas di pasar menjadi lebih baik lagi," ujar Hariyono kepada Kontan.co.id pada Senin (16/7). 

Nantinya hal ini akan lebih banyak berpengaruh pada likuiditas perbankan. Bila likuiditas bank semakin baik, artinya bank lebih longgar dalam menyalurkan kreditnya.

Oleh sebab itu, Hariyono optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di 2018 ini sebesar 17%-18% pada tahun ini. 

Catatan saja, dua poin relaksasi GWM averaging yang berlaku per hari ini, pertama adalah penambahan GWM rataan rupiah bank umum. Dalam aturan ini, GWM tetap bank akan diturunkan menjadi 4,5% dari sebelumnya 5%. 

Sedangkan GWM rataan dinaikkan menjadi 2% dari sebelumnya 1,5%. Poin kedua adalah penihilan jasa giro menjadi 0% dari sebelumnya 2,5%.

Per Juni 2018, penyaluran kredit Bank Mayapada mencapai Rp 60,85 triliun, tumbuh 18,04% secara tahunan dibandingkan Juni 2017 Rp 51,55 triliun. Namun Hariyono mengaku pelonggaran likuiditas tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk melakukan ekspansi kredit.

"Masing-masing bank punya hitungan dan kebutuhannya sendiri. Jadi yang mendatangkan yield tinggi masih kredit. Namun kalau permintaan kredit tidak ada, bisa ditempatkan ke banyak instrumen lainnya," jelas Hariyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×