kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.890.000   -66.000   -2,23%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

ACA Nilai Lini Asuransi Energi Masih Memiliki Prospek Cerah pada 2026


Jumat, 06 Februari 2026 / 21:32 WIB
ACA Nilai Lini Asuransi Energi Masih Memiliki Prospek Cerah pada 2026
ILUSTRASI. Asuransi ACA (Dok/ACA)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Central Asia (ACA) menilai lini asuransi energi masih memiliki prospek yang cerah pada 2026. Meski prospeknya cerah, Kepala Divisi Asuransi Energi dan Properti ACA, Mohamad Baihaqi mengatakan perlu pendekatan yang lebih selektif untuk menggarap lini tersebut. 

Baihaqi menyampaikan beberapa peluang di lini asuransi energi yang bisa dioptimalkan untuk tahun ini, yaitu adanya transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama target investasi pemerintah yang sebesar Rp 1.682 triliun untuk EBT menjadi katalis utama. 

"ACA diprediksi akan lebih banyak menggarap onshore energy, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), karena risiko teknisnya lebih terukur," ungkapnya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Baca Juga: ACA Terapkan Strategi Adaptif Dalam Menetapkan Tarif Premi Asuransi Kredit

Selain itu, Baihaqi menyebut angka Risk Based Capital (RBC) ACA yang berada di level 432% per September 2025) menunjukkan perusahaan memiliki kapasitas modal yang sangat longgar untuk menyerap risiko-risiko besar di sektor energi offshore maupun onshore yang biasanya membutuhkan jaminan bernilai tinggi. Dia bilang hal itu juga menjadi peluang yang bisa dioptimalkan.

Baihaqi juga menerangkan lini energi, khususnya EBT, diproyeksikan tumbuh di angka 5%-10% pada 2026, mengingat optimisme pada sektor industri dan komersial. Meski ada berbagai peluang, dia menyampaikan strategi utama ACA adalah tidak sekadar mengejar volume premi di lini asuransi energi, tetapi lebih fokus pada profitabilitas. 

Baca Juga: Investasi EBT Rp 1.682 Triliun, ACA Bidik Peluang Asuransi Energi Hijau

Menurut Baihaqi, ACA juga bisa mengambil peluang ke sektor EBT untuk mendiversifikasi portofolio bisnis, mengingat industri otomotif dan properti yang merupakan pasar tradisional ACA sangat kompetitif. 

"Dengan demikian, masuk ke infrastruktur hijau adalah strategi diversifikasi yang logis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang hingga 2026 dan seterusnya," ucapnya.

Terkait kinerja, Baihaqi mengatakan ACA membukukan pendapatan premi per kuartal IV-2025 dari lini asuransi energi sebesar Rp 379,17 miliar. Dia bilang pertumbuhan lini asuransi energi sebesar 66% secara Year on Year (YoY). Adapun nilai premi itu memakan porsi sebesar 6,4% dari total premi perusahaan. 

Baca Juga: Begini Strategi ACA agar Ekuitas Tetap Terjaga hingga Akhir 2026

Selanjutnya: Kebijakan dan Komunikasi Pemerintah Disorot, Moody’s Revisi Outlook PLN Jadi Negatif

Menarik Dibaca: Sambut Imlek, Genki Sushi Hadirkan 3 Menu dengan Harga Spesial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×