kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.890.000   -66.000   -2,23%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

BCA Sebut Ada 3 Modus Penipuan Phishing yang Terus Mengintai Nasabah


Sabtu, 07 Februari 2026 / 06:00 WIB
BCA Sebut Ada 3 Modus Penipuan Phishing yang Terus Mengintai Nasabah
ILUSTRASI. Kasir Digital di ajang BCA Expoversary 2026 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus memperkuat edukasi agar nasabah lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan digital. Perseroan menyadari, di tengah pesatnya transformasi digital yang mempercepat dan mempermudah layanan perbankan, risiko penipuan siber juga semakin meningkat dengan beragam modus.

EVP Contact Center & Digital Service BCA, Adrianus Wagimin, mengatakan jumlah laporan penipuan yang diterima BCA terus mengalami peningkatan, meski tidak signifikan.

Berdasarkan data nasional Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), tercatat lebih dari 400.000 laporan penipuan sepanjang 2025 dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 9 triliun. Adapun laporan penipuan yang diterima BCA mencapai sekitar 20.000 kasus.

“Laporan yang kami terima sejauh ini tidak mengalami peningkatan yang terlalu besar dibandingkan tahun sebelumnya. Secara umum, modus penipuan masih berkisar pada dua pola utama, yakni scamming dan phishing,” kata Adrianus, Jumat (6/2/2026).

Baca Juga: BCA Proyeksikan KPR Stabil 2026, Target Tumbuh 6%-7%

Adrianus menyebutkan, belakangan terjadi pergeseran pola penipuan. Jika sebelumnya masih didominasi scamming, kini modus penipuan yang paling banyak dilakukan adalah phishing.

Menurutnya, perubahan ini sejalan dengan tren transaksi yang semakin mengarah ke kanal digital. Ia mengungkapkan, terdapat tiga jalur utama masuknya kejahatan phishing berdasarkan laporan yang diterima BCA.

Sekitar 33% laporan penipuan terjadi melalui transaksi online. Kemudian, 15% penipuan berasal dari tawaran pekerjaan, dan 12% mengatasnamakan platform e-commerce. “Tahun ini, modus penipuan perbankan diperkirakan masih akan banyak terjadi melalui tiga pola tersebut,” ujar Adrianus.

Sementara itu, penurunan penipuan perbankan melalui aksi scamming, menurutnya, terjadi karena masyarakat mulai semakin teredukasi mengenai modus-modus tersebut melalui berbagai pemberitaan di media.

Baca Juga: BCA Masih Akan Terus Tambah Jaringan Kantor, Ini Alasannya

Dalam praktik scamming, pelaku menipu korban dengan menyamar sebagai institusi resmi, seperti bank, aparat penegak hukum, atau instansi lainnya. Adapun pada phishing, pelaku berupaya mencuri data pribadi korban melalui tautan, situs palsu, atau komunikasi yang terlihat meyakinkan.

Adrianus menambahkan, sasaran kejahatan penipuan siber tidak mengenal usia, jenis kelamin, maupun latar belakang. Bahkan, data menunjukkan kelompok usia produktif justru mendominasi korban penipuan digital. Figur publik pun tidak luput dari modus kejahatan ini.

Untuk mencegah pembobolan rekening nasabah oleh penjahat siber, BCA menghadirkan Halo BCA sebagai salah satu kanal utama yang dapat dihubungi ketika nasabah menyadari adanya indikasi penipuan.

“Tim kami akan melakukan verifikasi, pencatatan laporan, pemblokiran rekening, serta koordinasi dengan pihak terkait, termasuk bank lain, e-commerce, dan regulator, guna meminimalkan potensi kerugian lebih lanjut,” papar Adrianus.

Baca Juga: BCA Targetkan Penyaluran KPR Tumbuh 7% pada 2026, Ini Penopangnya

Sebagai bagian dari penguatan layanan, BCA juga menghadirkan Halo BCA App yang memungkinkan nasabah melaporkan permasalahan secara cepat tanpa pulsa, melakukan live chat, memantau status laporan, hingga mengatur kartu dan data rekening secara mandiri. Aplikasi ini dirancang agar nasabah dapat bertindak secepat mungkin saat menghadapi risiko penipuan.

Selain penguatan teknologi, BCA menjalankan strategi pencegahan melalui edukasi berkelanjutan, kolaborasi dengan regulator seperti OJK, Bank Indonesia, dan kepolisian, serta keikutsertaan dalam ekosistem nasional pencegahan penipuan digital. Dari sisi internal, BCA terus mengembangkan sistem deteksi fraud untuk melindungi nasabah secara menyeluruh.

“Kami berkomitmen memastikan Halo BCA tidak hanya menjadi pusat informasi, tetapi juga pusat solusi yang responsif, terintegrasi, dan berfokus pada perlindungan nasabah di era digital,” pungkas Adrianus.

Selanjutnya: GLOBAL MARKETS-Stocks, Bitcoin Rally, Regaining Some Lost Ground with Precious Metals

Menarik Dibaca: Poco F8 Pro: Upgrade Gila-gilaan, Benarkah Flagship Killer Sejati?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×