Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasca menerima balik dana saldo anggaran lebih (SAL) dari pemerintah, bank-bank milik negara (Himbara) kompak berkomitmen untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif.
Itu salah satunya diungkapkan Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi. Hery menjelaskan, penempatan dana SAl ini pada dasarnya memperkuat likuiditas bank yang pada gilirannya membantu bank mengoptimalkan kapasitas intermediasinya untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif penggerak ekonomi.
Sektor produktif ini, kata Hery, adalah yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional. Secara khusus ia menyebutkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memang selama ini menjadi fokus utama BRI.
Namun tetap, ia bilang penyaluran kredit bakal dilakukan secara selektif. “Kami mempertimbangkan kualitas kredit serta kebutuhan pembiayaan yang riil di perekonomian,” ujar Hery, Senin (29/6/2026).
Hingga Mei 2026, total penyaluran kredit BRI secara bank only tercatat mencapai Rp 1.417 triliun dan mayoritasnya disalurkan kepada UMKM serta sektor riil. Hery memastikan pihaknya bakal terus mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang memiliki multiplier effect terhadap perekonomian.
Baca Juga: Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?
Nada serupa terdengar dari Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Anggoro Eko Cahyo. Anggoro menyatakan siap berkontribusi mendukung kebijakan pemerintah melalui layanan keuangan syariah yang inklusif dengan adanya dana SAL ini.
Pasalnya, dengan adanya dana SAL yang membantu menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF), bank punya ruang untuk menjaga pembiayaan tetap kompetitif. Dus, masyarakat dan UMKM bisa mengakses pembiayaan yang lebih terjangkau.
“Amanah ini kami optimalkan untuk memperkuat pembiayaan produktif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha,” tutur Anggoro.
Sebagai mitra strategis pemerintah, kata Anggoro, pihaknya terus mendukung berbagai program prioritas nasional: termasuk pembiayaan UMKM, KUR (kredit usaha rakyat), koperasi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pembiayaan rumah bersubsidi.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) bakal tetap fokus pada bisnis utamanya di sektor perumahan. Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti menjelaskan, pada dasarnya pihaknya bakal menyalurkan dana SAL ke sektor-sektor yang berdampak luas ke pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Atas Perintah Prabowo, Dana SAL Rp 400 Triliun Kembali Mengalir ke Himbara
“Tugas kami adalah memastikan likuiditas ini tersalurkan dengan efektif ke sektor riil," tegas Venda.
Sektor Prospektif
Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan melihat sejatinya penyaluran kredit dari dana SAL ini bakal lebih diarahkan ke sektor yang memiliki prospek pertumbuhan dan risk return yang baik.
Misal, kata Trioksa, seperti hilirisasi industri, manufaktur, pertanian dan agroindustri, infrastruktur, energi, kesehatan, serta UMKM yang telah terintegrasi dalam ekosistem atau rantai pasok (supply chain).
Selain itu, ia juga melihat potensi penyaluran kredit ke program prioritas pemerintah seperti Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP), meski menurutnya itu tak bakal jadi tujuan utama bank.
“Perbankan tetap wajib menerapkan prinsip kehati-hatian. Kredit untuk koperasi sebaiknya hanya mengalir apabila koperasi memiliki model bisnis yang layak, tata kelola yang baik, arus kas yang jelas, dan kapasitas pembayaran yang memadai,” terang Trioksa.
Dengan begitu, dana SAL menjadi instrumen untuk memperkuat intermediasi pada sektor produktif yang benar-benar mampu menciptakan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar memenuhi target penyaluran kredit.
Baca Juga: Himbara Dapat Bantalan Baru, Pemerintah Siapkan Dana Siaga Rp 100 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














