kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?


Senin, 29 Juni 2026 / 19:05 WIB
Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di salah satu ATM bank Himabara (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Siasat pemerintah menggenjot kredit melalui suntikan likuiditas dana SAL (saldo anggaran lebih) ke bank-bank milik negara (Himbara) perlu kembali menjadi perhatian. 

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) urung menarik balik dana SAL yang ditempatkan di Himbara sejak September 2025 lalu. Malah, pemerintah bakal mengalokasikan dana siaga sebesar Rp 100 triliun yang bisa digunakan perbankan untuk menjaga posisi likuiditasnya.

Industri memang ketar-ketir dengan penarikan dana SAL ini. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi menyebut bank “hampir sesak napas” begitu diminta mengembalikan dana yang jumlahnya mencapai kisaran Rp 200 triliun itu. 

Baca Juga: Proses Banding Pindar Atas Putusan KPPU Berlanjut, Begini Kata Pengamat

Pasalnya, begitu dana SAL ditarik, Hery bilang bank perlu masuk ke pasar untuk berebut likuiditas dengan jumlah yang sangat besar. Padahal, menurutnya likuiditas di pasar saat ini saja sudah hampir kering. 

Nah dengan tambahan likuiditas ini, bank dapat mengoptimalkan penyaluran kredit dan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Fokus BRI ialah pada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional,” ujar Hery, Senin (29/6/2026). 

Senada, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan bilang penempatan dana SAL di perbankan memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan kredit. Bank Mandiri berkomitmen bakal terus menyalurkan kredit secara sehat dan berkelanjutan ke sektor pendukung ekonomi kerakyatan. 

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo juga bilang sejatinya penempatan dana SAL di perbankan merupakan wujud kolaborasi pemerintah dan industri yang penting dilakukan untuk menjaga likuiditas, memperkuat kepercayaan pasar, dan memastikan aliran dana tetap mendukung aktivitas ekonomi, dunia usaha, dan pembangunan nasional. 

Anggoro menjelaskan, adanya dana SAL ini membuat biaya dana (cost of fund/CoF) bank penerima. Dus, bank punya ruang untuk menjaga pembiayaan tetap kompetitif, pun masyarakat mendapat akses pembiayaan yang lebih terjangkau. 

Kalkulasi Ulang Target Kredit 14% 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang bilang pertimbangan utama dibatalkannya penarikan kembali dana SAL bulan ini adalah risiko pelemahan kredit. “Himbara bilang kalau gak dibantu, laju pertumbuhan kredit akan turun. Jadi ancaman perlambatan ekonomi amat nyata,” tutur Purbaya. 

Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Tumbuh 2,92% hingga April 2026, OJK Sebut Prospek Positif

Jika kondisi likuiditas lebih terjaga dengan adanya dana SAL ini, Purbaya bilang bank bakal lebih mantap merealisasikan rencana penyaluran kredit yang selama ini cenderung ditahan. Dalam situasi itu, ia optimistis pertumbuhan kredit bisa mencapai kisaran 13%–14% tahun ini. 

Namun, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet bilang proyeksi pertumbuhan kredit yang semasif itu perlu disikapi hati-hati. Menurutnya, likuiditas memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Yusuf sendiri memandang dana SAL ini lebih tepat diposisikan sebagai bantalan likuiditas. Mengingat era suku bunga tinggi sudah datang, likuiditas di pasar berpotensi terserap oleh berbagai instrumen dengan imbal hasil yang lebih tinggi, termasuk SRBI. 

Belum lagi soal tenor. Sejatinya, meski diundur sampai akhir tahun, bank penerima hanya punya waktu beberapa bulan untuk menyetor balik dana SAL ke kas pemerintah. 

Dari sisi manajemen risiko, bank tak bisa menggunakan dana yang sifatnya sementara untuk membiayai kredit jangka panjang. Sebab, bakal ada ketidakcocokan jatuh tempo antara aset dan kewajiban. 

“Artinya, Himbara tetap perlu menjaga sumber pendanaan yang stabil. Jadi untuk dana yang fleksibel, persaingan menghimpun deposito kemungkinan masih tetap berlangsung,” jelas Yusuf.

Baca Juga: Proyeksi Kinerja Big Banks Semester I-2026: Himbara Catat Pertumbuhan Lebih Tinggi

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku suntikan dana SAL diharapkan dapat meredakan persaingan dana pihak ketiga (DPK) di pasar. Namun, pertumbuhan kredit tetap ditentukan dari sisi permintaan. 

Nah masalahnya, saat ini permintaan kredit masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Dari sisi ritel, tantangannya daya beli yang masih lemah. Dari dunia usaha, Lani bilang pengusaha masih banyak yang memilih wait and see. Dan kondisi ini masih bakal berlangsung pada semester II mendatang. 

Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah sepakat. Menurutnya, prospek pertumbuhan kredit di sisa tahun nanti tidak cuman ditentukan oleh faktor likuiditas. Permintaan kredit dari dunia usaha dan rumah tangga, arah kebijakan suku bunga, percepatan investasi, realisasi belanja pemerintah, serta terjaganya daya beli masyarakat akan menjadi katalis utama. 

“Apabila faktor-faktor tersebut bergerak positif, barulah pertumbuhan kredit pada semester II bisa lebih baik,” tukas Efdinal. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×