kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Atas Perintah Prabowo, Dana SAL Rp 400 Triliun Kembali Mengalir ke Himbara


Sabtu, 27 Juni 2026 / 07:28 WIB
Atas Perintah Prabowo, Dana SAL Rp 400 Triliun Kembali Mengalir ke Himbara
ILUSTRASI. Kinerja Perbankan-Pengunjung di booth HIMBARA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni, Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali menempatkan dana di Himbara. Keputusan tersebut diambil karena Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diperintahkan Presiden Prabowo Subianto menempatkan kas pemerintah Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) sebesar Rp 400 triliun. Pihak perbankan mengaku senang lantaran adanya kepastian jika penarikan dana kas ini dilakukan secara gradual dan tidak sekaligus. 

Pemerintah sebelumnya sempat menarik sebagian dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di Himbara untuk dikembalikan ke Bank Indonesia (BI).

"Rp 400 triliun totalnya. Sekarang Rp 170 triliun, dibalikkan lagi Rp 200 triliun. (Nanti) ditambah Rp 100 triliun, dan Rp 100 triliun (lagi).Ini juga atas petunjuk Bapak Presiden," ujar Purbaya kepada awak media di kantornya, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: OJK Beri Izin Usaha kepada Perusahaan Gadai PT Gadai Saling Jaya

Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Hery Gunardi juga menegaskan, dari hasil diskusi dengan Menteri Keuangan, telah didapat kepastian bahwa penarikan dana dilakukan bertahap dan kemungkinan baru selesai di akhir tahun. 

Kepastian ini dianggap meredakan kekhawatiran pasar dan membantu likuiditas perbankan di tengah kondisi suku bunga tinggi. "Kemarin ada isu dana akan ditarik Kementerian Keuangan. Ini ikut membuat riak pasar karena jumlahnya cukup besar. Tapi sudah ada penjelasan bahwa dana itu akan ditarik secara gradual dan mungkin akan di akhir tahun ini," ujar Hery.

Hery menyebut kepastian dari Purbaya ini memberikan napas bagi Himbara untuk mengelola likuiditas. Pasalnya, hingga beberapa waktu ke depan, sejatinya perbankan sudah dihadapkan oleh tantangan likuiditas dalam era suku bunga tinggi yang berpotensi masih akan bertahan hingga akhir tahun. 

Untuk diketahui, sebelumnya sejak September 2025 hingga 2026 pemerintah menempatkan dana SAL dengan total sekitar Rp 300 triliun di Himbara.

Namun setelah pemerintah dan BI mencapai kesepakatan agar dana SAL kembali ditempatkan di bank sentral dengan imbal hasil remunerasi yang lebih tinggi, Kementerian Keuangan mulai menarik dana tersebut secara bertahap.

Dari total Rp 300 triliun, pemerintah telah menarik sekitar Rp 130 triliun sehingga dana yang masih tersimpan di Himbara saat ini sekitar Rp 170 triliun.

Baca Juga: Meningkat 3,80%, Jumlah Peserta Dana Pensiun Capai 30,11 Juta per April 2026

Namun, menurut Purbaya, penarikan dana tersebut justru memicu persoalan likuiditas di perbankan pelat merah. Ia mengaku mendapat permintaan dari jajaran Himbara agar pemerintah tidak menarik seluruh dana kas negara dari bank-bank tersebut.

"Rp 200 triliun atas permintaan beberapa pihak suruh narik, kita tarik. Rupanya jadi kering, enggak ada sumber uang lagi. Jadi kita ambil lagi (dari BI ditaruh lagi di Himbara)," katanya.

Purbaya menyebut likuiditas Himbara mulai mengetat setelah dana pemerintah dipindahkan ke BI.

"Masalah Himbara itu kan di sana mulai kekurangan likuiditas. Saya bilang ke mereka saya akan kembalikan lagi uangnya pemerintah ke Himbara," ujarnya.

Karena itu, pemerintah akan mengembalikan penempatan dana di Himbara menjadi Rp 200 triliun dalam jangka panjang. Selanjutnya pemerintah akan menambah lagi sekitar Rp 100 triliun hingga akhir tahun.

Selain itu, Kementerian Keuangan juga menyiapkan tambahan dana yang bersifat fleksibel sekitar Rp 75 triliun hingga Rp 100 triliun yang sewaktu-waktu dapat ditempatkan di Himbara sesuai kebutuhan likuiditas.

Baca Juga: Peningkatan Kunjungan Wisatawan Mancanegara Jadi Peluang bagi Asuransi Perjalanan

"Sekarang kan Rp 170 triliun, dibalikkan jadi Rp 200 triliun, tambah Rp 100 triliun lagi sampai akhir tahun fix. Yang fleksibel bisa dipakai sampai akhir tahun Rp 75 triliun sampai Rp 100 triliun lagi," jelasnya.

Dengan skema tersebut, total dana pemerintah yang akan ditempatkan di Himbara mencapai sekitar Rp 400 triliun.

Purbaya menilai penempatan dana pemerintah di bank-bank pelat merah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga aliran kredit ke sektor riil.

Ia bahkan mengaku sempat mendapat kritik ketika memindahkan dana SAL kembali ke BI beberapa waktu lalu. Namun, setelah likuiditas Himbara mengetat, pemerintah memutuskan mengubah kebijakan tersebut.

"Saya minta (SAL di Himbara) saya ambil, tapi ternyata enggak bisa ngisi (sudah disalurkan kredit dan instrumen lain). Ya sudah, panik (Himbara), baru balik lagi ke saya (Himbara mengadu). Kan ada yang bilang langkah saya salah. Ternyata itu satu-satunya engine untuk pertumbuhan ekonomi saat ini. Jadi kami balikkan lagi (kas pemerintah ke Himbara)," ujar Purbaya.

Menurutnya, tambahan likuiditas di Himbara diharapkan dapat menurunkan suku bunga di pasar sehingga penyaluran kredit meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Sehingga cukup likuiditas di sektor perbankan kita, jadi harusnya bunga di pasar akan turun, ekonomi akan lari lagi," katanya.

Purbaya juga memastikan pemerintah masih memiliki ruang kas yang memadai di Bank Indonesia. Ia menyebut posisi kas pemerintah saat ini mencapai sekitar Rp 590 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×