kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun


Senin, 27 April 2026 / 18:33 WIB
Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun
ILUSTRASI. Bank Indonesia telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial Rp427,9 triliun hingga April 2026. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan penguatan kebijakan KLM yang mulai berlaku sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk meningkatkan insentif bagi bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas (lending channel) serta bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit baru (interest rate channel).

Hingga minggu pertama April 2026, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp427,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp358,0 triliun dialokasikan melalui lending channel, sementara Rp69,9 triliun melalui interest rate channel.

Baca Juga: Kuatkan Ekosistem UMKM Jadi Strategi Kredit Pintar Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Berdasarkan kelompok bank, penyaluran KLM didominasi oleh bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun. Selanjutnya, bank swasta nasional (BUSN) menerima Rp166,6 triliun, diikuti bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp29,6 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp7,8 triliun.

Dari sisi sektoral, insentif KLM mengalir ke berbagai sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi dan perumahan, serta sektor UMKM dan pembiayaan inklusif berkelanjutan.

"Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen penting BI dalam memperkuat fungsi intermediasi perbankan, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih penuh tantangan," ungkap Perry saat RDG BI, beberapa waktu lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×