kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun


Senin, 27 April 2026 / 18:33 WIB
Hingga Awal April 2026, Insentif KLM BI Tembus Rp 427,9 Triliun
ILUSTRASI. Bank Indonesia telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial Rp427,9 triliun hingga April 2026. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan penguatan kebijakan KLM yang mulai berlaku sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk meningkatkan insentif bagi bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas (lending channel) serta bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit baru (interest rate channel).

Hingga minggu pertama April 2026, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp427,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp358,0 triliun dialokasikan melalui lending channel, sementara Rp69,9 triliun melalui interest rate channel.

Baca Juga: Kuatkan Ekosistem UMKM Jadi Strategi Kredit Pintar Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Berdasarkan kelompok bank, penyaluran KLM didominasi oleh bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun. Selanjutnya, bank swasta nasional (BUSN) menerima Rp166,6 triliun, diikuti bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp29,6 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp7,8 triliun.

Dari sisi sektoral, insentif KLM mengalir ke berbagai sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi dan perumahan, serta sektor UMKM dan pembiayaan inklusif berkelanjutan.

"Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen penting BI dalam memperkuat fungsi intermediasi perbankan, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih penuh tantangan," ungkap Perry saat RDG BI, beberapa waktu lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×