kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.935   -77,00   -0,43%
  • IDX 6.044   157,52   2,68%
  • KOMPAS100 803   27,79   3,58%
  • LQ45 606   18,82   3,21%
  • ISSI 207   6,38   3,17%
  • IDX30 344   10,01   2,99%
  • IDXHIDIV20 425   10,62   2,56%
  • IDX80 91   3,06   3,49%
  • IDXV30 114   3,78   3,43%
  • IDXQ30 111   2,85   2,64%

Kredit Sindikasi Jadi Makin Efektif Bagi Bank di Tengah Gejolak Ekonomi


Jumat, 12 Juni 2026 / 10:51 WIB
Kredit Sindikasi Jadi Makin Efektif Bagi Bank di Tengah Gejolak Ekonomi
ILUSTRASI. Menjelang pertengahan tahun 2026, kredit sindikasi masih jadi andalan bank untuk membiayai proyek dengan dana jumbo. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit sindikasi perbankan terbukti terus tumbuh tinggi. Menjelang pertengahan tahun 2026, kredit sindikasi masih jadi andalan bank untuk membiayai proyek dengan dana jumbo.

Kredit sindikasi merupakan skema pembiayaan yang diberikan oleh sejumlah bank kepada satu debitur yang membutuhkan dana dengan nominal jumbo.

Jika dilihat dari data Bloomberg pada 11 Juni 2026, penyaluran kredit sindikasi nasional telah mencapai US$ 12,89 miliar. Realisasi ini tumbuh 44,1% dibanding periode sama tahun lalu.

Baca Juga: Yield SBN Meningkat, Persaingan Dana BPR Kian Ketat

Adapun lima bank penyalur sindikasi terbesar adalah Bank Mandiri senilai US$  2,06 miliar, Bank Rakyat Indonesia sebesar US$ 1,36 miliar, Bank Negara Indonesia sebesar US$ 1,31 miliar, Bank Central Asia sebesar US$ 1,24 miliar, dan United Overseas Bank sebesar US$ 537 juta.

Data-data tersebut membuktikan bahwa di tengah berbagai sentimen negatif perbankan tahun ini, seperti gejolak ekonomi, pelemahan rupiah, hingga kenaikan suku bunga, kredit sindikasi lebih resilien dan mampu tumbuh tinggi.

Ekonom Center of Reform (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kredit sindikasi memang terbukti lebih tahan dari kenaikan risiko dibandingkan kredit bilateral pada umumnya.

Dalam kredit sindikasi, bank tidak hanya memikul risiko kredit sendirian, tapi dibagi bersama dengan bank-bank lainnya. Sebab itu, eksposur risiko pun menjadi lebih minim.

Yusuf menilai, itulah mengapa kredit sindikasi tetap bisa tumbuh tinggi. Skema kredit ini masih diminati oleh bank untuk membiayai proyek berskala besar tanpa harus memikul beban berlebih.

Baca Juga: IPOT Soroti Tantangan Generasi Muda di Era AI dan Ancaman Digital

"Sindikasi memungkinkan proyek-proyek besar tetap memperoleh pendanaan tanpa membebani neraca satu bank secara berlebihan. Diversifikasi risiko menjadi satu alasan sindikasi tetap menjadi pilihan utama untuk pembiayaan proyek strategis," kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (11/6/2026).

Meski begitu, Yusuf menyebut kredit sindikasi juga tidak terlepas dari risiko. Ia bilang, risiko utama sindikasi saat ini datang dari fundamental proyek yang didanai.

Jika proyek yang didanai oleh sindikasi terpengaruh langsung oleh gejolak ekonomi dan pelemahan rupiah, bisa saja setiap bank yang memberikan kredit justru mengalami kerugian.

Sebab itu, Yusuf menilai penyaluran kredit sindikasi bank ke depannya akan jadi lebih selektif pada proyek-proyek dengan prospek bagus.

"Selama proyek memiliki prospek yang baik dan profil risiko yang terukur, skema sindikasi justru menjadi salah satu instrumen yang efektif untuk menjaga penyaluran kredit tetap berjalan di tengah ketidakpastian ekonomi," ucapnya.

Yusuf memproyeksi, pertumbuhan kredit sindikasi hingga akhir tahun 2026 masih akan tetap positif. Akan tetapi, ia menilai pertumbuhannya tidak akan sekencang sekarang bila efek kenaikan suku bunga makin terasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×