kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Hingga Februari 2024, Pembiayaan Kendaraan BSI Meningkat 48,3%


Selasa, 23 April 2024 / 17:13 WIB
Hingga Februari 2024, Pembiayaan Kendaraan BSI Meningkat 48,3%
ILUSTRASI. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat peningkatan pembiayaan kendaraan hingga 48,3% per Februari 2024. KONTAN/Baihaki/16/1/2024


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat peningkatan pembiayaan kendaraan hingga 48,3% secara tahunan per Februari 2024. Sejalan dengan itu, BSI juga terus mendorong pembiayaan kendaraan ramah lingkungan atau kendaraan listrik.

Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengungkapkan pembiayaan kendaraan milik BSI senilai Rp 4,4 triliun. Dari jumlah itu, komposisi pembiayaan kendaraan ramah lingkungan mencapai Rp 180 miliar.

Meskipun masih kecil, Anton bilang pembiayaan kendaraan listrik di BSI akan terus menunjukkan tren yang positif. Menurutnya, ini juga ditopang oleh potensi pasar dan permintaan dari masyarakat yang semakin besar.

Baca Juga: Beredar Rumor Mau Akuisisi BSI (BRIS), Ini Profil Abu Dhabi Islamic Bank

“Didukung juga oleh banyaknya kebijakan dan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah untuk masyarakat yang ingin membeli kendaraan listrik,” ujar Anton, Selasa (23/4).

Di sisi lain, Anton juga melihat mulai banyaknya produsen kendaraan listrik baru yang masuk ke Indonesia. Harapannya, itu juga menambah kompetisi di pasar yang salah satunya dengan penawaran harga yang bersaing bagi konsumen yang membeli kendaraan listrik.

Ia menyebutkan ada beberapa hal yang membuat kendaraan listrik kini mulai diminati oleh masyarakat. Salah satunya, preferensi nasabah saat ini yang mendorong kemunculan kendaraan berwawasan lingkungan (KBL) menjadi tren tersendiri. 

Terlebih, jenis KBL memiliki nilai tambah performance, fitur, dan lainnya. Di sisi lain, harga yang bersaing dengan jenis kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) yang disebabkan adanya subsidi pemerintah serta perhitungan cost & maintenance yang lebih efisien, juga relaksasi pajak dan ketentuan ganjil-genap di kawasan Jakarta. 

“Terakhir tentunya motivasi masyarakat untuk ikut mengurangi emisi karbon, polusi dan kebisingan terkait penggunaan kendaraan,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×