kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.157   -17,00   -0,10%
  • IDX 7.546   -47,68   -0,63%
  • KOMPAS100 1.038   -11,52   -1,10%
  • LQ45 743   -12,39   -1,64%
  • ISSI 273   -1,82   -0,66%
  • IDX30 400   -1,56   -0,39%
  • IDXHIDIV20 486   -3,06   -0,63%
  • IDX80 116   -1,49   -1,26%
  • IDXV30 139   0,63   0,46%
  • IDXQ30 128   -1,10   -0,85%

ICT Institute: Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Dorong Permintaan BNPL


Selasa, 21 April 2026 / 12:41 WIB
ICT Institute: Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Dorong Permintaan BNPL
ILUSTRASI. Harga minyak (BBM) (REUTERS/Abdul Saboor)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis non subsidi pada Sabtu (19/4) diprediksi akan berdampak pada bisnis pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL).

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi menilai kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi mendorong pertumbuhan layanan BNPL.

Namun, peluang ini disebut bukan berasal dari kondisi ekonomi yang sehat, melainkan sebagai respons defensif masyarakat dalam menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat.

"Permintaan bisa naik karena konsumen mencari fleksibilitas arus kas, terutama untuk kebutuhan rutin," ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/4/26).

Baca Juga: Tugure Belum Rasakan Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Biaya Retrosesi

Ia menilai, kelas menengah akan menjadi segmen yang paling banyak memanfaatkan BNPL dalam situasi ini. Kelompok ini cenderung menggunakan layanan tersebut sebagai alat manajemen likuiditas jangka pendek untuk menjaga stabilitas keuangan mereka.

Meski begitu, Heru menegaskan bahwa peningkatan penggunaan BNPL tidak serta-merta mencerminkan perbaikan daya beli, melainkan jadi salah satu indikasi adanya tekanan ekonomi.

Sejalan dengan itu, ia juga menyoroti risiko meningkatnya kredit macet di tengah kondisi tersebut. Kenaikan biaya hidup dapat mengganggu kemampuan bayar pengguna sehingga memperbesar potensi gagal bayar.

Untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan BNPL disarankan mengambil langkah yang lebih berhati-hati. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain memperketat sistem penilaian kredit berbasis data real-time, menyesuaikan limit pinjaman secara dinamis, dan meningkatkan pemantauan terhadap perilaku pengguna.

Selain itu, edukasi konsumen dan transparansi terkait biaya juga perlu diperkuat. Katanya, pendekatan ekspansi yang lebih konservatif justru menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan bisnis BNPL di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Dengan langkah ini, perusahaan penyedia layanan BNPL diharapkan bisa menjaga kinerja pembiayaan di tengah tantangan ekonomi dan risiko kredit macet yang masih tinggi.

Perlu diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 53,53% secara tahunan pada Februari 2026, dengan nominal penyaluran mencapai Rp12,59 triliun dan naik dari yang sebelumnya Rp12,18 triliun pada Januari 2026.

Sementara itu, Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan tercatat mencapai 2,79% pada Februari 2026, meningkat tipis dari Januari 2026 yang sebesar 2,77%.

Baca Juga: BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan, Salurkan Pembiayaan Hijau Rp 93,2 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×