Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mengingatkan adanya potensi peningkatan risiko gagal bayar pada layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater, khususnya di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), seiring pertumbuhan industri yang masih agresif.
Direktur Utama Pefindo Biro Kredit (IdScore) Tan Glant Saputrahadi mengatakan, risiko kredit pada segmen BNPL dinilai tidak hanya tinggi, tetapi juga bersifat laten dan terakumulasi. Menurutnya, risiko tersebut banyak terkonsentrasi pada segmen konsumtif dan debitur kelas menengah bawah.
“Risiko ini terutama terkonsentrasi pada segmen konsumtif dan debitur kelas menengah bawah seperti ibu rumah tangga, pekerja administrasi, serta pelajar dan mahasiswa yang mendominasi pengguna BNPL,” ujar Tan Glant kepada Kontan, Sabtu (2/5/2026).
Baca Juga: Bank Mega Syariah Catat Laba Rp 79 Miliar pada Kuartal I-2026
Ia menjelaskan, pertumbuhan BNPL yang sangat agresif ini berpotensi memicu penumpukan risiko kredit atau risk build-up yang belum sepenuhnya tercermin dalam data agregat saat ini. Namun, risiko tersebut dinilai dapat meningkat ketika tekanan makroekonomi mulai mempengaruhi daya beli masyarakat.
Menurutnya, faktor seperti inflasi, tingginya suku bunga, hingga pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan kapasitas bayar debitur paylater di masa mendatang.
Di sisi lain, Tan Glant menilai rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) paylater yang masih berada di kisaran 5% dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural dalam model bisnis BNPL.
Ia memaparkan, salah satu faktor utama adalah fenomena multipayment, yakni satu debitur dapat memiliki banyak akun atau fasilitas paylater dalam satu tahun. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko overleveraging yang sering kali tidak terlihat secara agregat.
Baca Juga: Transaksi QRIS BCA Capai Rp 165 Triliun pada Kuartal I-2026
"Selain itu, banyak pengguna BNPL berasal dari kelompok thin-file borrower atau debitur dengan histori kredit minim. Hal itu membuat probabilitas gagal bayar menjadi lebih tinggi," lanjutnya.
Tan Glant juga menyoroti metode underwriting pada sebagian layanan paylater yang masih berbasis perilaku konsumsi pengguna dan belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan bayar riil debitur.
“Karakteristik pembiayaan BNPL juga cenderung konsumtif dan tidak menghasilkan arus kas. Pengguna didominasi Gen Z dengan pola fear of missing out (FOMO) dan doom spending,” katanya.
Menurut dia, tingginya risiko kredit BNPL juga dipengaruhi oleh tidak adanya agunan serta proses peminjaman yang sangat mudah atau frictionless borrowing. Kondisi tersebut membuat akumulasi utang kerap tidak disadari oleh pengguna.
Berdasarkan pengamatan IdScore, kelompok debitur muda menjadi segmen yang paling rentan mengalami gagal bayar paylater. Tan Glant menyebut pengguna BNPL didominasi oleh kelompok milenial sebesar 45% dan Gen Z sekitar 43%.
“Mayoritas memiliki profil pendapatan tidak tetap, masih berada pada fase awal dunia kerja, serta menggunakan banyak platform pembiayaan sekaligus,” ujarnya.
Sebagai informasi, per Februari 2026 IdScore mencatat outstanding paylater multifinance tercatat Rp 13,6 triliun atau tumbuh 84,8% secara tahunan (yoy). Sementara itu, outstanding paylater pinjaman daring (pindar)/P2P Lending tercatat Rp 16,9 triliun, tumbuh 153,49% yoy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













