Reporter: Ammar Rezqianto, Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok dalam. Bahkan sempat menyentuh level terendah pada pukul 09.56 WIB di 5.644,23 pada Kamis (4/6/2026).
Jika ditengok saham penyebab penurunan IHSG adalah saham sektor perbankan. Saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar alias big banks kompak melemah.
Pelemahan IHSG disebabkan oleh penurunan saham Bank Central Asia (BBCA) yang turun sebesar 3,71% di level Rp 5.350 per saham.
Baca Juga: Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah Melonjak 89% pada April 2026
Level harga ini menjadi level terendah saham BBCA dalam lima tahun. Penurunan saham BBCA ini diikuti aksi jual bersih asing alias net sell. Per 3 Juni 2026, BBCA saham telah dijual asing sebesar Rp 707,6 miliar dan sepanjang tahun ini sebesar Rp 31,03 triliun.
Sementara saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi saham bank kedua yang menjadi laggard IHSG dengan penurunan sebesar 3,1% di level Rp 2.810 per saham. Saham BBRI juga cukup banyak dijual asing. Per 3 Juni 2026, nilai net sell BBRI mencapai Rp 427,5 miliar. Akibatnya sepanjang tahun ini aksi jual bersih sepanjang tahun ini Rp 9,2 triliun
Saham Bank Mandiri (BMRI) turun lebih kecil yakni sebesar 1,73% menjadi Rp 3.980 per saham dengan aksi jual bersih sebesar Rp 10,86 triliun di sepanjang tahun ini.
Tapi sejatinya penurunan saham bank paling besar di hari ini (4/6/2026) dialami oleh saham Bank Negara Indonesia (BBNI) yang turun sebesar 4,2% di level Rp 3.420 per saham. Aksi jual asing pada saham BBNI juga lebih kecil yakni sebesar Rp 2,59 triliun di sepanjang tahun ini. Sementara kemarin saja pada (3/6/2026) terjadi aksi jual bersih alias net sell sebesar Rp 28 miliar.
Menurut Analis Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, pergerakan nilai kurs rupiah yang terus melemah menjadi alasan utama asing terus menjual saham bank.
Kamis (4/6/2026) hingga pukul 10.00 WIB rupiah berada di level terlemah baru di Rp 18.033 per dolar AS atau melemah 0,37% dari hari sebelumnya.
Baca Juga: Porsi CASA BCA Melejit, Tembus 84,97% DPK per April 2026
Selain itu menurut dia, sektor perbankan memiliki korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik, sehingga situasi kurs menjadi pemicu utama asing melakukan offload sementara.
Namun, Nafan menyebut fundamental keempat big banks masih solid. Ini terbukti dari kinerjanya hingga April 2026.
Sampai April 2026, BBCA menorehkan laba bersih terbesar senilai Rp 20,81 triliun. Disusul oleh BMRI dengan laba bersih Rp 18,05 triliun.
Sedangkan, BBRI mencatat laba bersih sebesar Rp 15,89 triliun dan terakhir BBNI dengan laba bersih Rp 7,29 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













