CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Laba Industri Pindar Naik 37,43% per Mei 2026, Kualitas Pembiayaan Masih Jadi Catatan


Senin, 20 Juli 2026 / 16:06 WIB
Laba Industri Pindar Naik 37,43% per Mei 2026, Kualitas Pembiayaan Masih Jadi Catatan
ILUSTRASI. Ilustrasi pinjol - p2p lending (KONTAN/Muradi)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba industri pinjaman daring (pindar) mengalami pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 37,43% year on year (YoY) menjadi Rp1,08 triliun.

Kendati demikian, sejumlah pengamat berpendapat bahwa peningkatan laba ini tidak sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental industri. 

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, menyebut bahwa salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan laba adalah makin banyaknya pengguna skema angsuran tenor pendek (tadpole) dengan cicilan pada periode awal yang relatif besar.

Baca Juga: Askrindo Perluas Akses Asuransi Nelayan Sorong, Perkuat Mitigasi Risiko

Skema ini dinilai bisa mendorong pendapatan perusahaan, tetapi berpotensi membebani konsumen karena kewajiban bayar jatuh dalam tempo singkat.

"Selain pertumbuhan penyaluran pinjaman, laba juga bisa dipengaruhi oleh struktur produk pembiayaan termasuk penggunaan tenor pendek dengan cicilan besar di awal," ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/26).

Menurutnya, perusahaan pindar harus menyediakan lebih banyak pilihan tenor yang sesuai dengan kemampuan bayar nasabah.

Selain itu, perusahaan juga harus lebih transparan terutama berkaitan dengan informasi bunga, biaya, tenor, besarnya cicilan, total pembayaran, hingga risiko pinjaman agar konsumen bisa mengambil keputusan dengan bijak.

Di sisi lain, ia juga berkata bahwa baiknya OJK Perlu mengkaji skema tadpole agar tidak terlalu membebani konsumen nantinya.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda menilai kenaikan laba ini kemungkinan dipengaruhi oleh penurunan beban operasional dibandingkan peningkatan pendapatan dari penyaluran pembiayaan.

"Pertumbuhan penyaluran di bulan Mei hampir sama seperti bulan-bulan lainnya, bahkan cenderung lebih lambat tapi laba melonjak tajam artinya ada penyesuaian sisi beban," terangnya.

Sebagai informasi, pada Mei 2026 outstanding pembiayaan pindar tembus Rp103,73 triliun. Meski meningkat dari bulan April yang sebesar Rp102,07 triliun. Namun, secara tahunan laju pertumbuhannya melambat dari 26,11% pada April menjadi 25,6% pada Mei 2026.

Dengan begitu, Nailul mengimbau agar industri tidak hanya fokus pada pertumbuhan laba seiring dengan TWP90 yang berada di level 4,42% atau hampir menyentuh level 5%.

Sependapat, Heru juga menilai agar perusahaan pindar tidak hanya mengejar pertumbuhan pembiayaan. Industri pindar harus berubah dan memasuki fase baru, yaitu fokus pada kualitas kredit dan kemampuan bayar nasabah.

Katanya, pertumbuhan laba saat ini bisa berubah menjadi peningkatan kredit bermasalah di kemudian hari jika pinjaman disalurkan tanpa analisis yang memadai.

Baca Juga: BRI Finance Sebut Kenaikan Harga BBM Berpotensi Kerek Permintaan Mobil Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×