kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.325
  • EMAS681.000 0,89%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Ini kata analis soal potensi akuisisi saham Bank Permata (BNLI)

Rabu, 13 Maret 2019 / 19:20 WIB

Ini kata analis soal potensi akuisisi saham Bank Permata (BNLI)
ILUSTRASI. Pelayanan Nasabah Bank Permata, Jakarta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana akuisisi perbankan di tahun ini masih jadi sorotan. Terbaru, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang membenarkan bahwa pihaknya memang sedang mengincar beberapa lembaga keuangan salah satunya bank untuk diakuisisi.

Dalam keterbukaannya, Senior Vice President Goverment and Institutional II Bank Mandiri Teddy Y. Danas mengatakan bahwa perseroan terus membuka peluang ekspansi bisnis untuk merealisasikan visi perusahaan menjadi one stop financial services terkemuka di Asia Tenggara.


"Salah satu penjajakan bisnis tersebut antara lain dengan melakukan akuisisi secara langsung terhadap lembaga keuangan (termasuk bank) yang dapat membawa sinergi perseroan," tulisnya dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/3).

Dalam artikel yang dimuat Kontan, Selasa (12/3) lalu disebut-sebut Bank Mandiri tengah melakukan penjajakan terkait rencananya untuk mencaplok saham di PT Bank Permata Tbk (BNLI). Bahkan, Bank Mandiri diisukan siap memboyong saham Bank Permata dengan harga premium di kisaran 1,6x hingga 2x nilai buku alias Price Book Value (PBV)

Namun, sampai saat ini kedua pihak baik Bank Mandiri maupun Permata belum memberikan keterangan secara resmi terkait hal tersebut.

Melihat isu yang berkembang tersebut, Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan hal tersebut masih sangat abu-abu alias spekulasi.

Menurut kacamatanya, sangat kecil kemungikan ada investor yang tertarik membeli saham Bank Permata bila tidak menjadi pemegang saham mayoritas.

Seperti diketahui, saat ini struktur kepemilikan saham Bank Permata yakni masing-masing sebanyak 44,56% dimiliki oleh PT Astra Internasional Tbk dan Standard Chartered Bank.

Sejauh ini, baru Standard Chartered yang telah mengumumkan niatnya untuk melepas kepemilikan saham di Bank Permata. Astra di lain pihak, belum menyatakan secara resmi minatnya untuk hengkang atau mengurangi saham di Bank Permata.

"Kuncinya cuma satu, Astra mau jual atau tidak? kalau iya baru menarik. Kalau tidak, untuk apa bayar Premium tapi tidak jadi (pemegang saham) mayoritas," ujar Suria kepada Kontan.co.id, Rabu (13/3).

Lebih lanjut, Ia menambahkan jika Astra siap melepas kepemilikan sahamnya maka harga jual premium semisal 1,8x PBV bahkan lebih menjadi layak.

Bila tidak, Suria memandang harga yang ada saat ini pun sudah terlampau mahal melihat kinerja Bank Permata yang baru membaik.

"Saya pribadi tidak yakin Astra mau jual, karena Astra juga butuh bank dan perlu partner yang punya pengalaman. Tapi masalahnya kalau begitu, akan ada dua kepala di satu perusahaan. Ini yang tidak mudah dari sisi pembelinya," sambungnya.

Sekadar informasi, merujuk RTI, Rabu (12/3) pukul 17:54 WIB saham Bank Permata naik 5,71% menjadi Rp 1.110 dari penutupan sebelumnya Rp 1.050.


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Editor: Tendi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0519 || diagnostic_web = 0.2726

Close [X]
×