Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menyebut terdapat beberapa pertimbangan utama perusahaan asuransi memilih menempatkan risiko ke reasuransi luar negeri.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan salah satunya mempertimbangkan kapasitas risiko.
Dia bilang apabila nilai pertanggungan sangat besar atau akumulasi risikonya tinggi, perusahaan perlu membagi risiko agar kesehatan keuangan dan Risk Based Capital (RBC) tetap terjaga.
Dody menyebut diversifikasi dan stabilitas keuangan menjadi pertimbangan lainnya. Mengenai hal itu, Dia menjelaskan reasuransi membantu perusahaan menjaga volatilitas klaim agar tidak langsung membebani neraca perusahaan ketika terjadi kerugian besar.
Baca Juga: Berisiko Tinggi, Lini Bisnis Ini Butuh Dukungan Kapasitas Reasuransi Luar Negeri
Pertimbangan lainnya, yakni keahlian dan akses informasi global. Dody mengatakan reasuradur internasional biasanya memiliki pengalaman panjang, modelling risk, serta data global yang lebih lengkap.
"Khususnya, untuk risiko perdagangan internasional, political risk, marine, dan catastrophe risk," katanya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Dody juga bilang kebutuhan rating dan kepercayaan pasar juga menjadi faktor asuransi melimpahkan risiko ke reasuransi luar negeri. Sebab, dia menyampaikan dalam beberapa proyek atau transaksi internasional, adanya dukungan reasuradur global dengan rating kuat dapat meningkatkan confidence dari mitra bisnis, bank, maupun counterpart internasional.
Selain itu, optimalisasi modal dan RBC juga menjadi pertimbangan. Dengan pengalihan sebagian risiko ke reasuransi, dia bilang perusahaan dapat mengelola kebutuhan permodalan secara lebih efisien sehingga ruang ekspansi bisnis tetap terjaga.
Dody menerangkan kondisi pasar domestik juga mempengaruhi, karena tidak semua risiko dapat diserap optimal oleh reasuransi dalam negeri, baik karena keterbatasan kapasitas maupun appetite risiko.
"Dalam kondisi tersebut, pasar reasuransi internasional menjadi alternatif penting," tuturnya.
Meski demikian, Dody menuturkan perusahaan asuransi tetap mengedepankan prinsip balanced reinsurance strategy. Artinya, selama kapasitas dan kompetensi reasuransi domestik masih memadai, penempatan di dalam negeri tetap menjadi prioritas sesuai semangat penguatan industri nasional.
Baca Juga: BSI Raup Manfaat dari Program Pemerintah, Bisnis Bullion hingga KUR Tumbuh Positif
"Alhasil, reasuransi luar negeri umumnya digunakan untuk melengkapi kapasitas, bukan semata-mata menggantikan pasar domestik," ucap Dody.
Jika menilik laporan keuangan perusahaan di situs resmi per Maret 2026, Asei tercatat dominan menggunakan reasuransi dalam negeri. Adapun sebanyak 37,5% risiko dilimpahkan kepada PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero), diikuti PT Maskapai Reasuransi Indonesia sebesar 22,5%.
Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, masih adanya 34,98% premi reasuransi yang mengalir ke luar negeri pada 2025, termasuk penempatan premi asuransi yang langsung ke reasuransi luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













