kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45691,12   20,34   3.03%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Ini strategi Modalku mencapai target pertumbuhan pinjaman setinggi 150% tahun ini


Rabu, 03 Juli 2019 / 17:54 WIB
Ini strategi Modalku mencapai target pertumbuhan pinjaman setinggi 150% tahun ini

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan peer to peer (P2P) lending PT Mitrausaha Indonesia Grup atau Modalku membidik pinjaman sebesar Rp 10 triliun sepanjang 2019 di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Nilai ini tumbuh 150% year on year (yoy) dibandingkan pinjaman yang disalurkan Modalku di akhir 2018 sebesar Rp 4 triliun.

Co-founder and Chief Executive Officer Modalku Reynold Wijaya Modalku menyebut juga ingin membidik hingga 1 juta pinjaman. Padahal di akhir tahun lalu, Modalku baru menyalurkan kepada 85.000 pinjaman. Sedangkan hingga kuartal kedua 2019 sudah ada 750.000 pinjaman yang terjadi lewat platform Modalku.


"Sampai Juni 2019 jumlah pinjaman sudah ada Rp 7,08 triliun. Dari Desember 2018 sampai sekarang pertumbuhan pinjaman Rp 3 triliun. Kalau pertumbuhan ini kita jaga, sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 10 triliun," ujar Reynold di Jakarta, Rabu (3/7).

Guna mencapai target tersebut, Reynold bilang Modalku akan terus melakukan inovasi terutama terkait teknologi. Ia menilai seiring membesarnya bisnis pinjaman, maka kemampuan teknologi juga harus meningkat. Sehingga Modalku bisa melayani semakin banyak jumlah pinjaman yang terjadi.

Selain itu, dalam mengejar jumlah pinjaman, Modalku tahun ini akan fokus pada pembiayaan bagi pemilik warung. Ia mengaku segmen ini masih membutuhkan pinjaman yang besar. Sebab tidak memiliki sumber pendanaan, lantaran memang memiliki risiko.

Guna mengukur risiko yang ada, Modalku menjalin kerja sama dengan mitra distributor tempat pemilik warung mengambil barang dagangan. Ia mengaku pemilik warung lebih mementingkan mendapatkan dana dari pada bunga yang ditawarkan.

"Pemilik warung menarik, mereka undeserve and unbankable, jadi menarik. Permintaan pinjaman besar, tapi secara nominal pinjaman tidak besar, sehingga fleksibel pada bunga. Biaya murah tapi marjin lebih tinggi," jelas Reynold.

Selain itu, Reynold bilang tidak akan terlalu fokus pada jumlah pemberi pinjaman atau lender yang terdiri dari ritel dan institusi. Ia ingin lebih banyak lagi menjangkau peminjam atau borrower tahun ini. Hingga Juni 2019 jumlah pinjaman yang disalurkan ke UMKM Indonesia sebanyak Rp 4 triliun. 




TERBARU

Close [X]
×