Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mencermati gejolak ekonomi global maupun domestik yang belum kunjung usai, regulator mendorong perbankan untuk mengambil langkah mitigasi dengan melakukan stress test.
Bank Indonesia (BI), dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) baru-baru ini menyampaikan bahwa hasil stress test perbankan masih tetap positif. BI menilai ketahanan bank masih kuat untuk menghadapi gejolak perekonomian.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu bank yang sudah melakukan stress test. BCA mengaku siap menghadapi potensi memburuknya kondisi perekonomian ke depan.
Baca Juga: Kredit Konsumer Perbankan Melambat, Tanda Daya Beli Masyarakat Melemah?
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn menyebut fundamental bisnis banknya masih terjaga dengan solid. Ia memastikan banknya punya posisi permodalan dan likuiditas yang kuat.
BCA mencatatkan rasio kecukupan modal (CAR) yang sangat tebal. Hingga kuartal I-2026, CAR bank ini berada jauh di atas ketentuan minimum regulator, yaitu di kisaran 27%.
Akan tetapi, dari kualitas aset, terlihat dari rasio loan at risk (LAR) BCA tercatat naik di level 5,1% pada Maret 2026 dari 4,8% di akhir 2025. Sedangkan, Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BCA tercatat rendah, yakni sekitar 1,8%.
Hera menyebut posisi LAR itu masih tetap terjaga dengan pencadangan LAR BCA yang sebesar 69,7%. Sementara, pencadangan NPL BCA tercatat sebesar 174,6%.
Hera juga bilang BCA terus aktif melakukan evaluasi pada setiap sektor kreditnya. Ini dilakukan dengan cara memonitor penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya.
Baca Juga: Perbankan Syariah Belum Minat Konsolidasi untuk Mendorong Market Share
"BCA juga terus menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terkena dampak, serta melakukan evaluasi sektor industri," jelasnya kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
PT Bank CIMB Niaga Tbk juga telah melakukan stress test. Hasilnya, CIMB Niaga optimistis dapat bertahan menghadapi skenario ekonomi terburuk, tapi tidak yakin pertumbuhan kreditnya akan meningkat tinggi.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan menyebut, banknya telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi terhadap kenaikan risiko ke depannya berdasar pada hasil stress test.
"Kami pastikan bahwa operasional kami bisa melakukan mitigasi untuk menghadapi shock seperti pada skenario stress test," ujarnya saat dihubungi, Jumat (24/4/2026).
Selain itu, Lani bilang banknya juga telah mendapat panduan dari regulator untuk menghadapi gejolak perekonomian domestik. Ia menyebut banknya diharapkan untuk lebih berhati-hati karena pertumbuhan kredit diproyeksi tidak akan terlalu besar.
"Kami melihat secara realistik bahwa pertumbuhan kredit akan landai tahun ini secara umum dan bank juga diharapkan lebih prudent," ucapnya.
Baca Juga: Kinerja Pembiayaan Investasi Multifinance Beragam Pada Awal 2026
Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, ada dua kelompok sektor kredit yang harus diwaspadai pihak bank, yaitu sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi luar negeri dan sektor yang terkena imbas efisiensi pemerintah.
Myrdal menyebut sektor yang bergantung terhadap kondisi luar negeri di antaranya sektor produksi yang memerlukan bahan baku plastik atau sektor yang terkait dengan barang-barang impor. Sedangkan, sektor yang terdampak efisiensi pemerintah adalah sektor perhotelan, akomodasi, serta transportasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












