Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perkembangan yang progresif membuat perbankan syariah masih optimistis bisa memperluas pasar tanpa menempuh jalur konsolidasi. Berbagai cara ditempuh, mulai dari memperkuat fundamental hingga diversifikasi produk.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Februari 2026 total aset perbankan syariah meningkat 10,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1.396 triliun. Kontras, total aset bank umum dalam periode yang sama justru turun 10,42% yoy menjadi Rp 12.425 triliun.
Meski begitu, secara komposisi, jelas perbankan syariah masih tertinggal jauh dengan total aset yang cuma setara 11,24% dari total aset perbankan umum. Menurut Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara, kondisi yang mencerminkan terbatasnya skala usaha itu pada gilirannya membuat perkembangan pasar syariah di industri perbankan jalan di tempat.
Baca Juga: Hadapi Dinamika RKAB Batubara, CFIN Perkuat Mitigasi Risiko Pembiayaan Alat Berat
“Skala usaha yang masih relatif kecil dibandingkan bank konvensional berdampak pada efisiensi dan daya saing,” jelas Pandji kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).
Namun tak cuma itu, menurutnya perbankan syariah juga masih terbatas dalam hal ekosistem dan variasi produk. Apalagi, untuk segmen wholesale dan pembiayaan bernilai besar. Pandji bilang hal ini salah satunya disebabkan oleh fase penyesuaian industri, termasuk proses spin off unit usaha (UUS) pada 2025, yang dalam jangka pendek mempengaruhi laju pertumbuhan.
Maka dari itu, kata Pandji, CIMB Niaga Syariah bakal melakukan simplifikasi produk dan proses berbasis kebutuhan nasabah agar layanannya bisa bersaing dengan produk konvensional.
Pandji mengaku pihaknya juga mencermati opsi berkongsi dengan UUS lain, hanya saja tak dalam waktu dekat. Saat ini, ia bilang fokus utama bank masih pada penguatan fundamental internal dan kesiapan struktur.
Baca Juga: FIF Group Perluas Jaringan, Tambah Cabang Bekasi dan Perkuat Energi Surya
“Strategi konsolidasi ataupun langkah anorganik akan dipertimbangkan secara selektif dan oportunistik,” tukasnya. Memang, sejauh ini CIMB Niaga Syariah menjadi bank syariah terbesar ketiga secara nasional dengan pangsa pasar kisaran 6,6%.
Sementara itu, Permata Bank Syariah masih berupaya memperkokoh posisinya. Dengan aset yang masih di kisaran Rp 37 triliun, Direktur UUS Permata Bank Rudy Basyir Ahmad bilang penambahan aset secara masif bukanlah agenda utama.
Alih-alih, Permata Bank Syariah fokus mendiversifikasi balance sheet neraca. “Agar tidak hanya fokus pada segmen-segmen tertentu,” kata Rudy.
Menurut Rudy, saat ini neraca Permata Bank Syariah masih didominasi korporasi dan pembiayaan pemilikan rumah. Untuk memperluas pasar, bank berusaha menyentuh lini pembiayaan lainnya yang belum tergarap maksimal selama ini. Misal, kata Rudy, sektor ritel selain pembiayaan rumah, juga UMKM.
Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan mengeluarkan produk-produk syariah, seperti pembiayaan haji dan emas.
Dalam hal pembiayaan emas, Permata Bank Syariah menukil peluang dari tingginya minat masyarakat pada emas sebagai instrumen investasi jangka panjang yang stabil. Program cicilan emas Permata KTA iB Multiguna memungkinkan nasabah memiliki emas fisik sejak awal pembiayaan.
Sementara itu, Bank Mega Syariah berupaya melalui digitalisasi sembari terus memperkuat literasi keuangan syariah kepada masyarakat melalui program kolaborasi dan penguatan ekosistem. Corporate Secretary Division Head BMS Hanie Dewita menyebut, digitalisasi bakal meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi.
Namun, tak jauh berbeda dengan yang lainnya, BMS masih tak menjadikan konsolidasi sebagai opsi utama untuk memperbesar pasar. Toh, kata Hanie, saat ini bank memiliki fundamental yang sehat dengan catatan pertumbuhan aset sebesar 8,76% yoy menjadi Rp 17 triliun pada akhir tahun lalu.
Maka, pengembangan bisnis secara organik lebih diutamakan. “Kami pilih ekspansi pembiayaan, peningkatan DPK, serta optimalisasi sinergi dalam ekosistem,” kata Hanie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













