Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Penjaminan Kredit Daerah Jakarta (Perseroda) atau PT Jamkrida Jakarta membeberkan sejumlah tantangan dan peluang yang bisa memengaruhi bisnis penjaminan pada tahun ini. Dirut Jamkrida Jakarta Agus Supriadi mengatakan salah satu tantangannya berasal dari kualitas aset.
Agus menilai penyaluran kredit yang tumbuh cepat membuat aspek selektivitas menjadi rawan sehingga dapat memengaruhi nilai klaim. Dengan demikian, dia bilang perusahaan penjaminan perlu mengedepankan aspek kehati-hatian.
"Kalau Non Performing Loan (NPL) naik pada kuartal IV-2026, klaim pada 2027 akan naik juga. Jadi, harus prudent, meski pasar dinamis," katanya kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Selain itu, Agus menerangkan tantangan lainnya berasal dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan daya beli masyarakat. Dia menjelaskan jika BI Rate ditahan tinggi lebih lama, angsuran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bisa makin berat sehingga dapat menekan kualitas penjaminan produktif.
Agus menyebut tantangan lainnya, yakni adanya target aset sebesar 14%-16% yang membutuhkan ekuitas lebih besar. Dia bilang perusahaan penjaminan yang belum mendapat suntikan modal tentu akan terbatas kapasitasnya.
Baca Juga: Transaksi Bale Korpora BTN Naik 81%, Pengguna Ditargetkan Tembus 30.000 Perusahaan
Agus menyampaikan kompetisi ekosistem juga menjadi tantangan yang perlu dicermati. Dia bilang asuransi kredit dan lembaga guarantee lain makin agresif, sehingga penjaminan harus menunjukkan nilai tambah, yakni memiliki pelayanan cepat, memahami kondisi UMKM, dan menyediakan pendampingan.
Sementara itu, Agus menyebut adanya momentum pertumbuhan kredit dan fiskal bisa menjadi peluang bagi penjaminan. Dia mengatakan penyaluran kredit yang tumbuh dua digit dan belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk infrastruktur dan program rakyat masih besar sehingga dapat menjadi bahan bakar utama penjaminan.
Transformasi perusahaan penjaminan menjadi Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda) juga bisa menjadi peluang. Agus menerangkan terdapat lima perusahaan yang menjadi Perseroda kini memiliki kapasitas gearing lebih besar sehingga bisa mengambil proyek yang dahulu tidak sanggup digarap.
Lebih lanjut, Agus menyampaikan peluang bagi industri penjaminan juga datang dari penerapan diversifikasi produk. Dia bilang perusahaan penjaminan bisa mengoptimalkan produk surety bond pengadaan, penjaminan pembiayaan hijau, dan supply chain financing yang mulai diminati serta dapat membuka pasar baru di luar kredit.
Baca Juga: Perbankan Perkuat Platform Wholesale Digital untuk Dongkrak Bisnis Korporasi
"Ditambah, mengoptimalkan digitalisasi lewat integrasi sistem dengan bank dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Alhasil, volume bisa naik tanpa menambah sumber daya manusia," ucap Agus.
Terkait kinerja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai Imbal Jasa Penjaminan (IJP) yang diperoleh industri penjaminan per April 2026 sebesar Rp 2,73 triliun. Nilai itu mengalami pertumbuhan sebesar 6,13% secara year on year (YoY).
Adapun nilai aset perusahaan penjaminan mencapai Rp 46,73 triliun per April 2026 atau terkontraksi sebesar 1,28% YoY. Nilai klaim industri penjaminan mencapai Rp 2,75 triliun per April 2026 atau meningkat sebesar 17,45% secara YoY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














