Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit perbankan pada Mei 2026 berhasil tumbuh dobel digit atau sebesar 11,51% secara Year on Year (YoY). Kondisi tersebut juga memberikan dampak positif terhadap industri penjaminan.
PT Penjaminan Kredit Daerah Jakarta (Perseroda) atau PT Jamkrida Jakarta menyebut pertumbuhan kredit perbankan dobel digit memiliki korelasi langsung dengan volume penjaminan. Sebab, Dirut Jamkrida Jakarta Agus Supriadi menerangkan sekitar 60%-70% bisnis penjaminan konvensional memang berhubungan langsung ke kredit bank, terutama Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit konstruksi, serta kredit investasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Agus mengatakan kondisi tersebut tentu memberikan dampak positif bagi bisnis penjaminan. Dia bilang porsi KUR pada portofolio penjaminan masih lebih dari 40%. Begitu bank menyalurkan lebih banyak KUR karena target pemerintah, Imbal Jasa Penjaminan (IJP) penjaminan ikut naik.
"Selain itu, seiring segmen konstruksi, manufaktur, dan perdagangan yang mulai aktif lagi, hal tersebut mendorong kinerja surety bond dan penjaminan kredit produktif non-KUR," ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Kredit Perbankan Melaju, Jamkrida Sumbar Catat Penjaminan Rp 515 Miliar
Agus juga mengatakan kondisi pertumbuhan kredit perbankan pada Mei 2026, bisa terlihat dampak nyatanya pada penghitungan IJP Juni hingga Juli 2026.
"Penjaminan biasanya terbit H-1 sampai H+7 setelah kredit disetujui. Jadi, dampak Mei 2026 baru full terasa di IJP Juni-Juli 2026," tuturnya.
Secara umum, Agus menerangkan setiap kenaikan kredit 1% biasanya dorong pertumbuhan volume penjaminan 0,7%-0,9%. Sebab, tidak semua kredit wajib dijamin.
Lebih lanjut, Agus menilai pertumbuhan kredit yang lebih sehat memang membantu meredakan tekanan tarif IJP. Dia menjelaskan saat pipeline kredit seret pada 2024-2025, beberapa penjaminan saling potong tarif untuk mendapatkan volume. Sekarang, kondisinya berbeda karena perang tarif terbilang sudah lebih mereda.
"Sekarang, demand dari bank naik, sehingga bargaining power industri lebih baik. Anggota tidak perlu banting harga habis-habisan," tuturnya.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Bakal Lebih Selektif Garap Penjaminan Sektor Produktif
Meski demikian, Agus mengatakan perang tarif IJP di industri belum hilang total dan masih terjadi di beberapa segmen. Misalnya saja, segmen KUR Mikro dan Ultra Mikro, karena bank punya banyak pilihan penjamin dan skemanya standar, sehingga kompetisi harga masih ketat.
"Selisih tarif 0,1%-0,2% saja bisa geser volume besar," ucapnya.
Selain itu, Agus menyebut segmen lainnya, yakni kredit konsumtif KPR bersubsidi. Dia bilang bank sering negosiasi tarif rendah, karena volume plafonnya besar dan risikonya dianggap rendah.
"Ditambah, segmen penjaminan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan skala besar. Untuk ticket size lebih dari Rp 1 triliun, proses beauty contest tarif masih ada," ungkapnya.
Untuk segmen UMKM produktif menengah, konstruksi, dan surety bond, Agus mengatakan tarif sudah lebih rasional karena bank paham risiko dan butuh kapasitas penjamin yang kuat.
Baca Juga: Asippindo Beberkan Tantangan Jamkrida Terkait Permodalan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














