kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Jumlah bank yang masuk kelompok bank besar bakal bertambah


Minggu, 24 Februari 2019 / 16:08 WIB
Jumlah bank yang masuk kelompok bank besar bakal bertambah

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank yang bermodal inti lebih dari Rp 30 triliun alias Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV bakal bertambah. Beberapa bank memasang  target bisa naik kelas ke bank skala besar dalam satu tahun hingga dua tahun mendatang.

Hingga saat ini baru ada lima BUKU IV. Yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).


Salah satu bank yang mulai ancang-ancang ingin masuk BUKU IV adalah PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Bank ini menargetkan bisa naik kelas ke  BUKU IV pada 2021 mendatang. Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, target tersebut bisa tercapai jika hingga 2020 nanti, OCBC NISP bisa menjaga pertumbuhan kredit dan laba bersih di level 10%-15%.

"Dari pertumbuhan saat ini memang secara organik jumlah modal kami akan mencapai BUKU IV pada 2021. Jadi targetnya, bukan untuk menjadi BUKU IV, tapi target kami adalah tumbuh sehat secara berkelanjutan," katanya kepada KONTAN pekan lalu

Target tersebut sejatinya tak berlebihan, sebab sepanjang 2018 laba bersih NISP bisa tumbuh 21,23% (yoy) menjadi  Rp 2,63 triliun dari tahun 2017 senilai Rp 2,17 triliun. Kredit di tahun 2018 pun masih dapat tumbuh double digit sebesar 10,80% (yoy) menjadi Rp 117,83.

Sementara modal inti OCBC NISP hingga akhir 2018 telah mencapai Rp 23,59 triliun. Modal ini tumbuh 11,19 dibandingkan tahun  2017 yang senilai Rp 21,21 triliun.

"Kami sedang mencanangkan transformasi, di samping akan terus mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan ini," lanjutnya.

Sementara bank yang berpotensi bergabung ke BUKU IV baru dalam waktu dekat adalah bank hasil merger PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP). Hasil gabungan modal inti dua bank ini kemungkinan besar akan mencapai Rp 30 triliun.

Hingga akhir 2018, modal inti Bank Danamon sebesar Rp 28,50 triliun. Sementara BNP hingga September 2018 punya modal inti senilai Rp 1,26 triliun. Dikalkulasi, maka totalnya mencapai Rp 29,76 triliun.

"BUKU IV kan berdasarkan modal lebih dari Rp 30 triliun. Kalau (hasil merger) sampai ke sana, kami otomatis masuk" kata Direktur Danamon Rita Mirasari kepada KONTAN.

Sayangnya, Rita belum mau memastikan posisi Bank Danamon pasca merger. Sebab saat ini Bank Danamon masih menyiapkan legalitas terkait merger.

Pada 26 Maret 2019 mendatang, kedua bank itu baru akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna meminta restu pemegang saham terkait merger. Jika lancar, 1 Mei 2019, merger baru akan berlaku efektif. "Kita lihat, masih banyak aspek yang masih dihitung-hitung. Soal merger kami sekarang masih fokus di legalnya," lanjut Rita.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga berniat masuk BUKU IV. Namun BTN menunda target yang sebelumnya berharap bisa naik kelas ke BUKU IV pada 2020.

"Kami akan evaluasi lagi setelah 2020, Selain itu, ada banyak rencana pemerintah seperti holding serta PSAK 71. Jadi kami harus menaikkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang lebih besar," ujar Direktur Strategi, Risiko dan Kepatuhan BTN Mahelan Prabantarikso kepada KONTAN belum lama ini.

Hingga September 2018, modal inti BTN sejumlah Rp 19,03 triliun. Hingga akhir 2018, Mahelan memprediksi, nilai tersebut telah bertambah hingga Rp 21 triliun.

Menggenjot target tersebut, BTN menargetkan tahun ini bisnis inti yakni kredit pemilikan rumah (KPR) bisa tumbuh hingga 15%. Dengan laba bersih yang diharapkan tumbuh hingga 20%.





Close [X]
×